SANGATTA — Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengusulkan agar daerahnya memiliki agenda olahraga disabilitas yang digelar secara khusus dan rutin. Usulan itu ditujukan sebagai wadah kompetisi sekaligus sarana pengembangan prestasi atlet disabilitas di Kutim.
Hal tersebut disampaikan Ardiansyah saat menghadiri pelantikan pengurus National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Kutai Timur periode 2026–2031 di Ruang Meranti, Bukit Pelangi, Sabtu (6/6/2026).
Ardiansyah menyebut atlet-atlet disabilitas Kutim selama ini telah menunjukkan prestasi membanggakan di berbagai ajang. Ia mengaku kerap menerima kunjungan para atlet sebelum berangkat mengikuti kejuaraan dan merasa bangga ketika mereka kembali membawa medali.
“Hampir setiap tahun mereka datang meminta dukungan sebelum bertanding. Alhamdulillah banyak yang kembali dengan prestasi membanggakan, bahkan meraih medali emas,” katanya.
Menurut Ardiansyah, keberadaan kompetisi menjadi faktor penting untuk meningkatkan motivasi atlet. Karena itu, ia mendorong agar Kutim memiliki agenda olahraga disabilitas yang dilaksanakan secara rutin.
Ia juga menekankan bahwa olahraga tidak semata-mata soal prestasi, tetapi juga menjadi sarana menjaga kesehatan fisik dan mental bagi seluruh masyarakat tanpa memandang kondisi fisik.
Selain mengapresiasi para atlet, Ardiansyah turut memberikan penghargaan kepada guru dan tenaga pendidik sekolah luar biasa (SLB) yang selama ini berperan dalam membina serta memotivasi atlet disabilitas untuk mengembangkan bakat.
“Dengan adanya event, atlet akan semakin semangat berlatih dan memiliki target yang ingin dicapai,” ujarnya.
Ardiansyah menegaskan Pemerintah Kabupaten Kutim akan terus mendukung pengembangan olahraga disabilitas melalui sinergi bersama NPCI dan para pemangku kepentingan.
Sementara itu, Ketua NPCI Kalimantan Timur Suharyanto menegaskan kepengurusan yang baru perlu memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan atlet disabilitas di daerah. Menurutnya, Kutim memiliki potensi besar untuk melahirkan atlet berprestasi hingga tingkat nasional maupun internasional, namun perlu ditunjang sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Pengurus yang baru dilantik diharapkan mampu membangun organisasi yang kuat, profesional, dan mampu melahirkan atlet-atlet disabilitas yang berprestasi,” ujarnya.
Selain pembinaan, NPCI Kaltim juga mendorong penerapan digitalisasi data atlet dan pelatih melalui program Jaksa Garda Inklusi (JAGAIN) untuk membangun basis data olahraga disabilitas yang lebih terintegrasi dan akurat.
“Keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, melainkan motivasi untuk membuktikan kemampuan yang dimiliki,” tegasnya.