Bruce Springsteen menyatakan tidak khawatir menghadapi reaksi negatif, termasuk kemungkinan kehilangan penggemar, setelah menyuarakan kritik terhadap Donald Trump. Musisi yang dikenal dengan julukan “The Boss” itu menegaskan bahwa ia siap menanggung konsekuensi dari sikapnya.
Dalam wawancara terbaru menjelang tur terbarunya, Springsteen menjelaskan prinsip yang ia pegang sepanjang karier: ia akan melakukan apa yang ingin ia lakukan dan mengatakan apa yang ingin ia katakan, sementara publik bebas merespons dengan cara mereka masing-masing. Menurutnya, backlash merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pilihan tersebut.
Springsteen juga menyoroti tur bertajuk Land of Hope and Dreams bersama E Street Band yang dijadwalkan dimulai pada 31 Maret di Minneapolis. Ia menggambarkan rangkaian konser itu bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan refleksi terhadap kondisi sosial dan politik Amerika Serikat saat ini. Ia menyebut tur tersebut akan bernuansa politis dan relevan dengan situasi yang sedang terjadi di negaranya.
Baginya, musik memiliki peran penting pada masa-masa sulit. Springsteen bahkan menyatakan E Street Band “dibangun untuk masa-masa keras,” seraya menekankan bahwa musik dapat memberi nilai bagi komunitas bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menyuarakan keresahan publik. Ia menilai Amerika Serikat sedang berada pada titik kritis ketika nilai-nilai dasar negara diuji.
Springsteen membandingkan situasi saat ini dengan kondisi pada 1968, periode penuh gejolak di Amerika Serikat. Ia mengingat kembali pengalaman saat berusia 18 tahun dan merasakan ketegangan sosial pada masa itu, yang menurutnya kini terasa kembali. Ia menyebutnya sebagai “critical moment,” ketika pertanyaan besar mengenai identitas, nilai, dan arah negara kembali mengemuka.
Sikap kritis tersebut turut tercermin dalam karya terbarunya, termasuk lagu protes berjudul “Streets of Minneapolis.” Lagu itu disebut terinspirasi dari insiden penembakan yang melibatkan ICE, serta menjadi bentuk solidaritas terhadap korban seperti Renee Good dan Alex Pretti. Dalam proses penulisan, Springsteen sempat mempertanyakan apakah liriknya terdengar terlalu menggurui. Namun kolaboratornya, Tom Morello, menilai ada momen ketika pesan perlu disampaikan secara tegas agar didengar.
Tur Land of Hope and Dreams dijadwalkan berakhir di Washington, DC pada 27 Mei. Rangkaian kota pembuka dan penutup tersebut digambarkan membawa makna tersendiri, dari Minneapolis hingga pusat kekuasaan di ibu kota, sekaligus memperkuat narasi yang ingin disampaikan melalui tur itu.
Di tengah situasi ketika banyak figur publik memilih bersikap netral, Springsteen menegaskan ia telah memperhitungkan risikonya. Ia menyatakan siap menghadapi konsekuensi, termasuk potensi kehilangan sebagian audiens, demi menyampaikan hal yang ia yakini.

