Industri perbukuan Indonesia sempat melewati periode yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah toko buku tutup, minat baca disebut menurun, sementara banyak anak muda kian lekat dengan layar ponsel dibanding halaman cetak.
Namun, perubahan arah budaya membaca justru muncul dari platform yang kerap diasosiasikan dengan hiburan singkat: TikTok. Di tengah ragam konten viral, berkembang komunitas yang membicarakan buku lewat video pendek bernama BookTok. Melalui format 15 hingga 60 detik, pengguna—banyak di antaranya anak muda—membagikan ringkasan, ulasan singkat, kesan pertama, hingga reaksi emosional terhadap cerita, karakter, atau kutipan yang membekas.
Pengaruhnya dinilai nyata. Sejumlah buku yang sempat meredup kembali ramai diperbincangkan, penjualan disebut meningkat, dan sebagian toko buku menyesuaikan diri dengan menampilkan rak bertanda “BookTok Favorites”. Di saat yang sama, muncul kembali semangat baru dalam budaya membaca, dengan buku yang tidak hanya dikonsumsi secara pribadi, tetapi juga dibicarakan sebagai pengalaman bersama.
Membaca sebagai pengalaman sosial
Di BookTok, emosi menjadi bahasa utama. Pengguna merekam diri mereka menangis setelah menuntaskan cerita, tertawa karena alur yang absurd, atau marah karena nasib karakter tertentu. Studi East South Social Science and Humanities Journal (2023) mencatat konten BookTok di Indonesia umumnya berupa ringkasan cerita, ulasan singkat, kesan pertama, atau reaksi emosional—jenis konten yang memicu keterlibatan tinggi melalui komentar, tanda suka, dan diskusi lanjutan.
Aktivitas membaca yang sebelumnya identik dengan kesunyian dan proses personal kini kerap menjadi awal percakapan. Penonton tidak hanya mencari tahu isi buku, tetapi juga ingin mengetahui apa yang dirasakan orang lain saat membacanya. Digital Society menyebut fenomena ini sebagai “perpustakaan emosional kolektif”, ketika video BookTok berfungsi seperti testimoni afektif yang mengundang orang lain ikut merasakan dan terlibat.
Secara global, tagar BookTok telah mencapai lebih dari 55 juta unggahan. Di Indonesia, tagar #SerunyaMembaca tercatat telah menembus lebih dari 400 ribu video per Mei 2025. Dalam konteks ini, buku tidak hanya dibaca, tetapi juga dipertunjukkan dan diperdebatkan di ruang publik digital.
Sejumlah kreator yang diwawancarai Whiteboard Journal menyebut kebiasaan membaca mereka kini tidak lagi semata untuk diri sendiri, melainkan juga untuk dibagikan. Pengalaman membaca menjadi sosial bukan karena medianya berubah, tetapi karena teknologi memungkinkan narasi personal disalurkan secara luas.
Storytelling, emosi, dan identitas pembaca
Di Indonesia, kreator seperti Indra Dwi Prasetyo dan Syarif (@menceriakan) memanfaatkan BookTok sebagai ruang ekspresi yang dekat dan apa adanya. Mereka tampil bukan sebagai kritikus sastra, melainkan pembaca yang terhubung secara emosional. Gaya yang tidak menggurui membuat penonton merasa seperti mendengar teman bercerita, bukan menerima anjuran membaca dari “polisi literasi”.
Whiteboard Journal juga mencatat BookTok memberi ruang bagi pembaca untuk menampilkan identitas dan preferensi literasinya. Buku tidak lagi diposisikan sebagai simbol eksklusif atau aktivitas elitis, melainkan bagian dari narasi pribadi yang dapat dibagikan dan menemukan resonansi.
Windy Ariestanty, salah satu kurator Patjar Merah, menyebut BookTok sebagai “perayaan storytelling” yang melampaui sekadar strategi promosi. Ketika orang membicarakan buku dari sudut pandang pengalaman pribadi, muncul rasa memiliki yang memicu keinginan untuk berbagi. Dalam pola ini, sebuah buku bisa viral tanpa perlu mengandalkan data penjualan atau testimoni tokoh terkenal—cukup dengan cerita yang terasa nyata dan menyentuh.
Dampak ke penjualan dan komunitas
Efek BookTok tidak berhenti di layar. Menurut laporan Consumeri.id, BookTok mendorong lonjakan penjualan buku, termasuk judul-judul lama dan klasik yang sempat terlupakan. Beberapa contoh yang disebut mengalami peningkatan popularitas setelah ramai dibicarakan di TikTok antara lain It Ends With Us karya Colleen Hoover, Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom, serta The Song of Achilles karya Madeline Miller.
Sejumlah toko buku di Jakarta, Bandung, dan Surabaya disebut ikut merasakan dampaknya, dengan pertumbuhan penjualan yang signifikan setelah tren ini menguat. Sebagian menyesuaikan tampilan fisik dengan menyediakan rak “BookTok Favorites” agar pembeli mudah mengenali judul yang sedang ramai. Praktik serupa juga muncul di toko daring seperti Shopee dan Tokopedia melalui penambahan label terkait.
Resonansi BookTok juga memunculkan komunitas membaca berbasis pengalaman. Di Jayapura, klub buku Torang Baca disebut lahir dari interaksi pengguna TikTok yang awalnya terhubung lewat rekomendasi buku, berlanjut ke percakapan di kolom komentar dan pesan langsung, hingga akhirnya bertemu untuk membaca bersama.
Studi East South Social Science and Humanities Journal menilai BookTok di Indonesia membentuk ekosistem literasi baru yang memadukan hiburan, informasi, dan emosi. Keterlibatan tidak berhenti pada konsumsi pasif, tetapi meluas ke partisipasi aktif seperti membuat ulasan, berdiskusi, hingga membentuk komunitas membaca. Dalam kerangka itu, BookTok berfungsi sebagai “ruang sirkulasi makna”, tempat buku dibicarakan, ditafsirkan ulang, dan dihidupkan kembali lewat emosi kolektif.
Festival literasi seperti Patjar Merah pun disebut mulai mengakomodasi gelombang ini. Pengunjung tidak hanya datang untuk bertemu penulis atau membeli buku, tetapi juga untuk merayakan membaca sebagai pengalaman emosional yang dibagikan.
Tantangan dan kritik
Di balik popularitasnya, BookTok juga menghadirkan sejumlah tantangan. Salah satunya, membaca bisa terdorong semata karena viral, bukan karena kualitas isi. Algoritma juga cenderung mengangkat genre tertentu—seperti romance atau coming-of-age—yang lebih mudah “menjual” secara emosional, sementara karya sastra lokal yang lebih kompleks berpotensi tenggelam.
Siklus konsumsi yang cepat turut memunculkan budaya “move on” literasi: buku yang kemarin ramai dipuji bisa segera tergeser oleh judul baru yang lebih dramatis. Dalam ekosistem yang menjadikan perhatian sebagai mata uang, tidak semua buku memperoleh peluang yang sama.
Peluang bagi literasi dan industri buku
Meski demikian, BookTok juga dibaca sebagai pintu masuk literasi bagi generasi digital. Bagi sebagian remaja dan dewasa muda, inilah pengalaman membaca yang terasa relevan, seru, dan tidak dijalani sendirian. Buku tidak lagi dipandang sebagai simbol intelektualisme yang kaku, melainkan media ekspresi diri yang beresonansi.
Dampaknya juga membuka peluang bagi penulis muda. Mereka memiliki panggung untuk memperkenalkan karya langsung kepada audiens, tanpa harus menunggu legitimasi dari penerbit besar. Sejumlah buku yang diterbitkan secara indie pun disebut dapat menjadi best seller berkat momentum satu ulasan yang viral.
Digital Society menyebut BookTok sebagai “surga baru bagi pecinta buku” yang mencari keterhubungan. Di titik ini, BookTok memberi sinyal bahwa minat baca generasi muda tidak hilang, melainkan menemukan medium yang sesuai dengan cara mereka berkomunikasi. Jika tren ini dirawat lewat penguatan literasi, komunitas yang berkelanjutan, serta dukungan penerbit dan institusi pendidikan, BookTok berpotensi melampaui sekadar tren—menjadi salah satu penanda lahirnya generasi pembaca baru yang lebih ekspresif dan inklusif.

