Konsep wellness tourism mulai menjadi pendekatan baru dalam layanan kesehatan di Yogyakarta, termasuk yang dikembangkan RS Bethesda Jogja. Rumah sakit tidak lagi semata berfokus pada pengobatan saat pasien sakit, tetapi juga mengedepankan upaya promotif dan preventif melalui aktivitas yang mendorong gaya hidup sehat, seperti olahraga, relaksasi, hingga terapi berbasis tradisional.
Pendekatan tersebut memadukan layanan medis modern dengan kearifan lokal, dengan tujuan menghadirkan pengalaman kesehatan yang lebih menyeluruh bagi masyarakat. Dalam implementasinya, konsep wellness tourism di lingkungan rumah sakit juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menjaga kebugaran fisik dan mental secara berkelanjutan.
RS Bethesda Jogja menjadi salah satu pihak yang mengembangkan konsep ini secara konsisten. Salah satu wujudnya adalah penyelenggaraan Bethesda Heritage Run yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Mei 2026 dengan tema Heritage in Motion.
Wakil Direktur Pendidikan, Riset, dan Pengembangan Mutu RS Bethesda, Wahyu Widiyanto, mengatakan konsep wisata kesehatan dipadukan dengan olahraga, salah satunya melalui gelaran Bethesda Heritage Run yang rutin diadakan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Wahyu, pendekatan wellness tourism tidak hanya mengajak masyarakat berolahraga, tetapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya gaya hidup sehat secara menyeluruh. Integrasi layanan dilakukan dengan memadukan berbagai disiplin, termasuk kedokteran modern, timur, dan tradisional.
Ia menambahkan, integrasi tersebut mulai diterapkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pengembangan layanan berbasis kearifan lokal. RS Bethesda juga memperluas layanan wellness melalui program yang dapat diakses masyarakat umum. Fasilitas itu dikembangkan di TLC (Therapeutic Lifestyle Center) yang menyediakan beragam aktivitas penunjang kesehatan, mulai dari yoga hingga program relaksasi.
Rute melintasi landmark kota
Race Director Bethesda Heritage Run, Arizal Ashar, menjelaskan ajang ini menawarkan pengalaman berbeda karena berlangsung di lingkungan medis, namun tetap menghadirkan nuansa wisata kota. Peserta akan melintasi sejumlah landmark ikonik Yogyakarta selama lomba berlangsung.
Panitia membuka dua kategori, yakni 10 kilometer dan 5 kilometer. Untuk kategori 10 kilometer, rute dimulai dari Jalan Jenderal Sudirman menuju Tugu Jogja, dilanjutkan ke Jalan Mangkubumi, Stadion Kridosono, Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, kemudian ke Pakualaman, Jalan DR Soetomo, Embung Langensari, dan kembali ke RS Bethesda.
Sementara itu, rute 5 kilometer meliputi Jalan Jenderal Sudirman, Tugu Jogja, Jalan Mangkubumi, Stadion Kridosono, Jalan DR Soetomo, Embung Langensari, dan kembali ke RS Bethesda.
Arizal menyebut seluruh Jalan Jenderal Sudirman akan ditutup mulai dari simpang tiga depan Galeria hingga simpang empat Gramedia untuk kebutuhan venue pada pukul 08.30–09.00 WIB.
Target 2.500 peserta, fokus kategori lomba
Ketua Panitia Bethesda Heritage Run 2026, dr Eddy Gunawan, menyampaikan bahwa penyelenggaraan tahun ini menargetkan 2.500 peserta dari berbagai segmen. Ia mengatakan, berbeda dari tahun sebelumnya, kegiatan kali ini difokuskan pada kategori lomba (race) tanpa fun run.
Panitia menyiapkan podium untuk dua kategori utama, yakni 10K dan 5K. Adapun harga tiket normal ditetapkan sebesar Rp250.000 untuk kategori 10K Race, Rp200.000 untuk 5K Race, dan Rp175.000 untuk 5K Fun Run.
Menurut Eddy, fokus pada kategori race dilakukan karena minat yang tinggi. Ia menyebut segmen peserta luas, mulai dari wisatawan, pelari rekreasional, pemula, hingga pelari yang mengejar prestasi, baik dari kalangan muda maupun tua.
Melalui penguatan konsep wellness tourism dan penyelenggaraan Bethesda Heritage Run 2026, RS Bethesda Jogja berharap masyarakat semakin terdorong untuk mengadopsi gaya hidup sehat sekaligus menikmati pengalaman wisata kesehatan yang terintegrasi di Kota Yogyakarta.