Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mulai mengembangkan konsep wellness tourism atau pariwisata kesehatan dengan memanfaatkan bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, hutan, hingga pegunungan dalam satu kawasan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suratno, mengatakan potensi jamu di wilayah ujung timur Pulau Jawa itu dinilai besar. Ia merujuk pada sebaran produk jamu Banyuwangi yang telah dipasarkan tidak hanya di daerah setempat, tetapi juga ke sejumlah wilayah lain seperti Bali, Sumatera hingga Aceh.
Menurut Suratno, kedekatan wilayah laut dan gunung di Banyuwangi turut menciptakan keanekaragaman tanaman yang mendukung ketersediaan bahan dasar obat. Ia mencontohkan sejumlah rempah seperti jahe dan merica yang dapat tumbuh di Banyuwangi, sementara di daerah lain tidak selalu demikian.
Suratno menyebut pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggeluti jamu dan obat tradisional di Banyuwangi sudah cukup banyak. Namun, ia menilai masih ada tantangan untuk memastikan produk jamu yang beredar semakin berkualitas, sehat, aman, serta bebas bahan kimia obat (BKO).
Ia mengingatkan penggunaan BKO dapat menjadi “jebakan” bagi produsen yang mengejar hasil instan agar jamu terlihat cepat berkhasiat. Suratno menilai hal itu berisiko menurunkan kepercayaan konsumen ketika muncul kasus terkait keamanan produk.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kata Suratno, berencana memberikan edukasi kepada pelaku usaha agar memproduksi jamu yang aman. Selain itu, pemkab juga menyiapkan langkah promosi melalui penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakat luas, dengan tujuan memperkenalkan jamu Banyuwangi ke pasar yang lebih luas.
Suratno menambahkan, Banyuwangi selama belasan tahun telah fokus pada sektor pariwisata dan melihat peluang untuk merintis pengembangan wellness tourism. Ia menyebut gagasan tersebut dapat dimasukkan dalam agenda wisata tahunan pada tahun berikutnya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jawa Timur, Yudi Noviandi, mengatakan Banyuwangi merupakan produsen jamu terbesar di Jawa Timur. Dengan kondisi tersebut, Banyuwangi ditetapkan sebagai wilayah percontohan dan menjadi lokasi penyelenggaraan Pekan Jamu Nasional pada 2–5 Juni 2026, dalam rangka peringatan Hari Jamu Nasional yang jatuh pada 27 Mei 2026.
Yudi menyebut tantangan produksi jamu yang masih mengandung BKO menjadi alasan BBPOM menggandeng pelaku usaha hingga akademisi untuk mendorong perubahan menuju produksi jamu yang aman dan bebas BKO.
BBPOM juga akan mendorong perluasan pasar jamu Banyuwangi melalui pemanfaatan pemasaran digital, setelah melalui proses pengembangan produk. Yudi mencontohkan pengolahan jahe menjadi bentuk ekstrak yang lebih menarik dan sesuai dengan selera pasar, termasuk generasi Z.