Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mulai mengembangkan konsep wellness tourism atau pariwisata kesehatan dengan memanfaatkan kekayaan bentang alam yang dinilai lengkap—mulai dari laut, hutan, hingga pegunungan dalam satu kawasan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suratno, mengatakan potensi jamu di wilayah ujung timur Pulau Jawa itu cukup besar. Ia merujuk pada sebaran produk jamu Banyuwangi yang telah dipasarkan ke berbagai daerah.
“Tidak hanya di Banyuwangi saja, tapi juga Bali, Pulau Sumatera sampai Aceh dan pulau-pulau lain yang mengindikasikan bahan dasar jamu di Banyuwangi cukup,” kata Suratno, Kamis (4/5/2026).
Menurut Suratno, kedekatan wilayah laut dan pegunungan menciptakan keanekaragaman tanaman yang mendukung ketersediaan bahan baku obat tradisional. Ia mencontohkan sejumlah rempah yang dapat tumbuh di Banyuwangi.
“Kita ambil contoh, jahe, merica atau rempah-rempah, semuanya bisa tumbuh di Banyuwangi, di lain tempat tidak selalu bisa. Itu potensi,” ujarnya.
Suratno juga menyebut jumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengembangkan jamu dan obat tradisional di Banyuwangi sudah cukup banyak. Namun, ia menekankan adanya tantangan untuk memastikan produk jamu yang beredar semakin berkualitas, sehat, aman, dan bebas bahan kimia obat (BKO).
Ia mengingatkan, penggunaan BKO menjadi risiko bagi produsen yang mengejar hasil instan agar jamu tampak berefek cepat. “Begitu kasus muncul pada konsumen bisa jadi produknya menjadi tidak terpercaya,” tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kata Suratno, berencana memberikan edukasi kepada pelaku usaha agar memproduksi jamu yang aman. Pemerintah daerah juga menyiapkan langkah promosi, termasuk melalui penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakat luas untuk memperluas pengenalan jamu Banyuwangi.
“Banyuwangi belasan tahun fokus di pariwisata. Saya kira berpeluang menjadi wellness tourism karena produk-produk jamu kita bisa diterima pasar. Bisa jadi agenda, sementara jadi rintisan, tahun depan bisa dimasukkan di salah satu agenda wisata tahunan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jawa Timur, Yudi Noviandi, menyatakan Banyuwangi merupakan produsen jamu terbesar di Jawa Timur. Karena itu, Banyuwangi dijadikan wilayah percontohan sekaligus lokasi penyelenggaraan Pekan Jamu Nasional pada 2–5 Juni 2026, dalam rangka peringatan Hari Jamu Nasional yang diperingati setiap 27 Mei.
“Karena di sini masih ada tantangan produksi jamu yang mengandung BKO, kami menggandeng pelaku usaha hingga akademisi untuk bersama mengubah ke depan dengan jamu yang aman bebas BKO,” kata Yudi.
Yudi menambahkan, BPOM akan mendorong pelaku usaha agar memperluas pasar melalui pemasaran digital, setelah produk melalui proses pengembangan. Ia memberi contoh pengolahan jahe menjadi bentuk yang lebih menarik dan sesuai kebutuhan pasar.
“Kita harapkan dapat dikembangkan. Misal jahe diekstrak menjadi sesuatu yang menarik dan sesuai dengan kemauan pasar yang saat ini didominasi Gen-Z,” tandasnya.