BERITA TERKINI
Bali Wellness and Beauty Expo Dorong Arah Baru Pariwisata Bali yang Lebih Berkualitas dan Berkelanjutan

Bali Wellness and Beauty Expo Dorong Arah Baru Pariwisata Bali yang Lebih Berkualitas dan Berkelanjutan

Bali masih menghadapi tantangan besar di tengah tingginya kunjungan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. Pariwisata tetap menjadi penggerak utama ekonomi daerah, namun berbagai persoalan seperti penurunan kualitas wisatawan, masalah sampah, kemacetan lalu lintas, hingga banjir turut menjadi perhatian.

Dalam konteks itu, Bali Wellness and Beauty Expo digelar sebagai upaya mendorong transformasi pariwisata Bali menuju konsep yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, expo ini diposisikan sebagai wadah kolaborasi pemangku kepentingan di sektor wellness dan beauty, dengan tujuan memperkuat daya tarik Bali sekaligus mendorong pembangunan ekonomi yang manfaatnya lebih luas bagi masyarakat lokal.

Co-Founder dan Managing Director Bali Wellness and Beauty Expo 2026, Dr. Diah Permana, mengatakan gagasan penyelenggaraan expo berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi pariwisata Bali yang dinilai perlu diarahkan kembali pada konsep quality tourism. Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir muncul tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama, baik terkait lingkungan maupun dampak sosial akibat meningkatnya aktivitas pariwisata.

Ia menilai wellness dan beauty dapat menjadi salah satu pilar untuk meningkatkan kualitas wisatawan yang datang ke Bali sekaligus mendukung keberlanjutan destinasi. “Bali saat ini menghadapi sejumlah persoalan yang memerlukan penanganan serius. Masalah sampah, kemacetan lalu lintas di sejumlah kawasan wisata, hingga banjir yang sempat terjadi di beberapa wilayah menjadi tantangan yang harus diantisipasi sejak dini,” kata Diah saat ditemui di Sanur, Jumat, 5 Juni 2026.

Diah menyebut pengembangan sektor wellness memiliki peran strategis untuk membangun pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas serta dampak positif yang dihasilkan. “Dengan adanya wellness ini, saya berharap bahwa kualitas turis yang hadir itu semakin baik,” ujarnya.

Menurutnya, wisatawan yang datang dengan tujuan wellness memiliki karakteristik berbeda dibanding wisatawan massal. Mereka dinilai cenderung memiliki daya beli lebih tinggi dan bersedia mengeluarkan biaya lebih besar demi pengalaman yang berkualitas. “Kalau kita bicara tentang quality tourism, kita melihat misalnya wellness. Kalau orang yang sudah berpikir tentang wellness, biasanya mereka itu sudah punya biaya lebih. Mereka sudah tidak lagi memikirkan basic needs mereka. Jadi otomatis mereka juga bersedia mengeluarkan uang lebih banyak,” katanya.

Selain itu, ia menilai wisatawan wellness juga memiliki kepedulian lebih tinggi terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Menurutnya, aktivitas seperti meditasi, yoga, maupun program kesehatan membutuhkan ruang yang bersih. “Tidak mungkin orang mau melakukan wellness seperti meditasi atau yoga dan sebagainya di tempat yang kotor. Jadi pasti mereka juga akan care terhadap lingkungannya,” ungkapnya.

Melalui Bali Wellness and Beauty Expo, berbagai elemen dalam industri wellness dan beauty dipertemukan dalam satu platform, mulai dari pelaku industri, pemerintah, investor, buyer, seller, hingga pelaku UMKM. Diah menekankan kolaborasi menjadi faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan industri wellness nasional sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wellness dunia. “Bali Wellness and Beauty Expo ini kita ciptakan untuk digunakan sebagai sebuah platform atau wadah di mana industri, pemerintah, investor, buyer dan seller itu bertemu bersama-sama untuk melakukan kolaborasi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti tren global yang menunjukkan meningkatnya minat terhadap gaya hidup sehat dan keseimbangan hidup, termasuk kesadaran pada kesehatan fisik, mental, serta perawatan diri. Menurutnya, kondisi itu membuka peluang bagi Indonesia untuk menguatkan posisi dalam industri wellness internasional.

Diah menyampaikan bahwa ekonomi wellness Indonesia saat ini berada di posisi teratas di kawasan Asia Tenggara. “Nah ternyata ekonomi wellness Indonesia itu adalah nomor satu di Asia Tenggara,” ujarnya. Meski demikian, ia menilai upaya berkelanjutan tetap diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas produk dan layanan wellness.

Indonesia, menurutnya, memiliki kekayaan budaya dan tradisi dalam bidang kesehatan dan kecantikan, mulai dari perawatan tradisional, ramuan herbal, terapi alami, hingga metode pijat warisan leluhur. Potensi itu dinilai perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, inovasi kemasan, dan strategi pemasaran yang lebih efektif agar mampu bersaing di pasar global.

Ia mencontohkan Thailand yang berhasil memperkenalkan Thai Massage sebagai identitas wellness yang dikenal luas di berbagai negara. “Nah sama seperti kalau orang Thailand misalnya memperkenalkan Thai Massage, kita juga harus menggaungkan terus bahwa Bali punya Balinese Massage yang bagus, kita punya spa yang bagus, spa produk kita juga bagus dan berkualitas,” kata Diah.

Ia berharap promosi yang konsisten dapat membuat produk wellness Indonesia semakin dikenal di tingkat internasional. Diah juga menyebut kehadiran Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneur Association diharapkan menjadi wadah kolaborasi untuk memperkuat sinergi antar pelaku industri wellness dan beauty di Indonesia.