BERITA TERKINI
Art & Bali Umumkan Daftar Seniman untuk Pameran “Terra Nexus”

Art & Bali Umumkan Daftar Seniman untuk Pameran “Terra Nexus”

Art & Bali, yang disebut sebagai art fair internasional pertama di Bali, mengumumkan daftar seniman untuk pameran bertajuk “Terra Nexus”. Pameran ini dikurasi oleh Mona Liem dan akan menampilkan rangkaian karya yang memadukan pendekatan seni dengan sains dan teknologi.

Dalam “Terra Nexus”, pengunjung akan menjumpai instalasi imersif, lanskap augmentasi, hingga interface spekulatif. Pameran ini mengajak publik menelusuri gagasan tentang keterhubungan di planet ini sebagai sebuah sistem yang “diprogram, diurai, dan dibangun kembali”, termasuk kemungkinan-kemungkinan artistik ketika teknologi bersinggungan dengan mitos dan tradisi.

“Bayangkan sebuah ruang imajinatif dan hidup di mana sains dan teknologi menjadi kekuatan kreatif yang membentuk kembali cara kita terhubung dengan alam dan budaya,” kata Mona Liem. Ia menyebut pameran ini sebagai ekspresi holistik, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai medium yang memfasilitasi kebaruan yang tetap berpijak pada kearifan lokal.

Sejumlah nama yang telah dikenal dalam budaya visual Indonesia turut terlibat, di antaranya Nasirun yang dikenal mengintegrasikan seni tradisional dengan percakapan sosial-politik, Ubrux yang kerap menonjol melalui teknik melukis di atas koran, serta Yessiow, seniman mural asal Bali yang dikenal lewat karya dekoratif berwarna cerah dan berani.

Pameran ini juga menghadirkan seniman dari berbagai negara, termasuk Polandia, Prancis, Jepang, Qatar, dan Korea Selatan. Kehadiran lintas negara tersebut disebut memperkuat posisi Art & Bali sebagai platform pertemuan beragam gagasan dan praktik seni.

Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, menekankan posisi seni di kawasan tersebut. “Seni bagi kami bukan hanya sebuah pemanis. Apalagi sebuah ornamen belaka. Di Nuanu, seni adalah cara kami bertumbuh. Sebuah rencana tata kota. Sebuah infrastruktur spiritual. Terra Nexus adalah wujud nyata dari nilai ini,” ujarnya. Ia menambahkan, pengunjung tidak sekadar mendatangi art fair, melainkan memasuki kawasan yang meyakini seni perlu bersuara secara berani, bukan hanya untuk memperindah tempat.

“Terra Nexus” digelar di Nuanu, kawasan regeneratif di pesisir barat daya Bali yang disebut dibangun dengan prinsip yang menolak logika ekstraktif dalam pembangunan. Dalam narasi penyelenggara, pelestarian budaya ditempatkan sebagai prinsip desain utama, dan pemilihan lokasi ini disebut bukan kebetulan.

Kelsang Dolma, Fair Director Art & Bali, mengatakan Bali tidak memiliki formula baku tentang bagaimana sebuah art fair seharusnya diselenggarakan. “Ini bukanlah sebuah struktur yang dipinjam, melainkan sesuatu yang lahir dari Bumi sendiri: mistis, sedikit berantakan, indah,” ujarnya. Ia menyebut “Terra Nexus” sebagai cara untuk bertanya bagaimana jadinya jika seni tumbuh dari ritual, lanskap, dan ingatan kolektif, bukan semata dari teori atau dinamika pasar. “Di sini, unsur-unsur alam bukan sekadar tema, mereka adalah leluhur kita semua,” kata Kelsang.

Dari Indonesia, sejumlah seniman muda yang disebut turut bergabung antara lain Alodia Yap, Popomangun, dan Widi Pangestu. Pengunjung juga disebut dapat memasuki dunia bawah laut distopia karya Dhanny Sanjaya, dunia Minecraft berskala penuh yang ditata ulang oleh MIVUBI, organisme kinetik karya Muhammad Aji Prasetyo, serta pertunjukan dan instalasi cahaya oleh Notanlab.

Nama lain yang tercantum sebagai peserta “Terra Nexus” meliputi Awang Behartawan, Dadi Setiadi, Dr. Justyna Gorowska, Ivan Sagito, para pemenang J+Art Award, Jana Schafroth, Nus Salomo, Roger Ng Wei Lun, Satya Cipta, Utami A. Ishii, Valerio Vincenzo, dan Wisnu Ajitama. Penyelenggara menyatakan masih ada seniman lain yang akan diumumkan mendekati pelaksanaan acara.