Sebuah angkringan di kawasan Gajahmungkur, Kota Semarang, menjadi perhatian warganet karena menghadirkan konsep yang tidak lazim. Berlokasi di depan Hotel UTC Semarang, Jalan Kelud Raya, angkringan bernama Angkringaning menawarkan suasana makan khas angkringan dengan iringan musik dari Disc Jockey (DJ).
Konsep tersebut digagas oleh Garcia Reynando Aditya (22), seorang DJ profesional. Ia mengatakan ide itu bermula dari keisengan, ketika peralatan DJ miliknya di rumah kemudian digunakan untuk memainkan musik di angkringan. Video kegiatannya yang diunggah ke TikTok disebutnya ramai dan menjadi viral.
Garcia menyebut Angkringaning mulai dibuka pada 10 April 2026. Awalnya, ia hanya ingin memiliki tempat nongkrong bersama teman-temannya. Namun, kehadiran musik DJ di angkringan itu dinilai menghadirkan alternatif bagi orang yang ingin menikmati musik tanpa harus datang ke tempat hiburan malam.
Menurut Garcia, suasana di Angkringaning dibuat lebih inklusif dan “merakyat”. Ia menekankan tidak ada kebutuhan untuk menghadirkan alkohol, dan pengunjung tetap bisa menikmati menu angkringan seperti nasi kucing dan sate-satean sambil mendengarkan musik.
Viralnya konten di media sosial berdampak pada jumlah pengunjung. Garcia menyatakan sekitar 80 persen pelanggan datang setelah melihat konten di TikTok. Pada hari biasa, pengunjung disebut berkisar 50 orang, sementara saat ia tampil memainkan musik, jumlahnya dapat melonjak hingga lebih dari 100 orang per hari.
Ia juga mengatakan respons pengunjung sejauh ini positif dan tidak ada keluhan berarti. Bahkan, menurutnya, pernah ada pengunjung yang memilih pulang ketika mengetahui pada hari itu tidak ada penampilan DJ.
Meski dikenal dengan konsep “angkringan DJ”, Garcia menegaskan ia tidak tampil setiap hari karena tetap fokus pada karier profesionalnya. Angkringaning tutup pada Senin dan buka Selasa hingga Minggu. Untuk penampilan DJ, biasanya dilakukan pada akhir pekan—Jumat, Sabtu, atau Minggu—tergantung jadwal manggungnya di luar kota.
Melihat antusiasme yang tinggi, Garcia menyebut mulai memikirkan rencana jangka panjang, termasuk kemungkinan ekspansi tempat dan pembaruan sistem suara.
Salah satu pengunjung, Rafi (22), mengaku sudah tiga kali datang ke Angkringaning. Ia menilai konsep yang ditawarkan tetap mempertahankan nuansa angkringan konvensional, namun diberi sentuhan yang lebih sesuai dengan selera anak muda. Rafi mengatakan ia kerap datang bersama teman-temannya untuk nongkrong, makan, dan mendengarkan musik sebagai cara melepas penat.