Dua puluh lima tahun sejak wafatnya musisi Trinh Cong Son pada 1 April 2001, karya-karyanya masih melekat dalam ingatan banyak orang Vietnam. Setiap April, lagu-lagunya kembali terdengar dan menghadirkan ruang perenungan—tentang cinta, tanah air, dan takdir—yang bagi para pendengarnya bukan sekadar untuk dinikmati, melainkan juga dihayati.
Dalam ruang yang kerap disebut para penggemarnya sebagai “alam Trinh”, musik Trinh Cong Son dipandang sebagai dialog yang terus berlanjut lintas generasi. Sejumlah seniman masa kini pun meneruskan percakapan itu melalui interpretasi baru, dengan tetap merujuk pada sumber inspirasi yang mereka anggap tak habis digali.
Salah satu upaya terbaru datang dari penyanyi sekaligus jurnalis Khoi Minh yang merilis album studio Therefore I Love. Proyek ini disebut menjembatani semangat musik Trinh Cong Son dengan kepekaan kontemporer, melalui eksplorasi seperti lagu-lagu cover, penambahan lirik, dan penyegaran melodi.
Khoi Minh mengatakan musik Trinh Cong Son memberinya sumber inspirasi yang istimewa. Ia menilai bukan hanya melodi dan liriknya yang indah, melainkan juga ada “keajaiban” yang membuat karya-karya tersebut memikat. “Baik musik maupun liriknya sangat inspiratif dan kreatif. Oleh karena itu, proses menambahkan melodi, lirik, dan bagian rap ke dalam lagu terasa sangat alami dan cukup mudah… Dalam semua rekaman, saya sepenuhnya mereproduksi musik dan lirik dari lagu aslinya. Baru kemudian saya menambahkan sentuhan saya sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan gagasan album itu berawal dari gejolak emosi dan kecemasan yang ia rasakan selama pandemi COVID-19. Pada masa tersebut, ia merasakan musik Trinh Cong Son—yang menurutnya mampu berbagi, menenangkan, dan membangkitkan semangat—menjadi sandaran yang ia butuhkan.
Sejumlah pihak menilai musik Trinh Cong Son memang menyimpan kedalaman filosofi yang disampaikan lewat bahasa artistik yang halus. Romantisme di dalamnya tidak lepas dari kenyataan, melainkan berhadapan langsung dengan penderitaan manusia dan bangsa, dengan musik yang disebut menghidupkan kembali perdamaian dan harapan.
Khoi Minh menilai kekuatan itu membuat lagu-lagu Trinh Cong Son tetap relevan saat orang berada dalam kebimbangan. “Musik Trinh Cong Son tidak hanya menghibur orang-orang di saat putus asa, tetapi juga mengingatkan kita untuk melihat hal-hal baik yang masih ada di sekitar kita. Mungkin itulah sebabnya, setiap kali kita merasa tersesat dan ragu-ragu, mendengarkan musik Trinh Cong Son membantu kita mendapatkan kembali ketenangan,” katanya.
Seniman Berprestasi Lan Anh menyoroti cara bernyanyi dalam musik Trinh yang menurutnya menuntut teknik, tetapi tidak untuk dipamerkan. “Musik Trinh memberikan perasaan yang sangat nyaman bagi para penyanyi. Bukan berarti teknik tidak dibutuhkan, tetapi teknik harus disembunyikan, menjadi senatural bernapas… seperti bagaimana sang komposer menyampaikan filosofi yang mendalam melalui lirik lembut yang menyentuh hati,” ujarnya.
Penyanyi Ha Le, yang disebut sebagai salah satu pelopor modernisasi musik Trinh Cong Son, turut mengapresiasi pendekatan Khoi Minh. Namun ia menekankan pentingnya menjaga spirit asli ketika pengalaman pribadi dimasukkan ke dalam lagu. Menurut Ha Le, musik Trinh Cong Son adalah genre langka yang memiliki “ruang terbuka” luas bagi seniman untuk terus berkarya dari waktu ke waktu. Karena itu, interpretasi modern tidak dimaksudkan menggantikan versi lama, melainkan memberi lebih banyak pilihan bagi pendengar.
Ha Le juga menilai ada unsur “keberanian” dalam proyek tersebut, karena tidak banyak artis yang memilih membuat album musik Trinh Cong Son dengan eksperimen pribadi yang begitu jelas dalam konteks saat ini. Ia meyakini keberanian mengikuti jalur sendiri dapat membuka ruang kreatif baru bagi tim sekaligus mendorong pendengar mendekati musik dengan cara mereka.
Bagi Khoi Minh, perjumpaan pertama dengan musik Trinh Cong Son terjadi sejak muda, disertai perasaan yang ia sebut tidak biasa: indah dan memikat. Seiring waktu, ia merasa semakin terhubung dengan dunia yang diciptakan sang komposer. “Masih ada kegembiraan dan kekaguman seorang pelancong yang mengunjungi negeri asing, bercampur dengan perasaan kembali ke kedamaian dan keamanan rumah. Namun, tidak ada konflik. Saya percaya banyak orang memiliki perasaan serupa tentang dunia Trinh Cong Son – tempat yang selalu terbuka untuk menyambut semua jiwa yang masih penuh cinta dan rasa ingin tahu tentang kehidupan ini yang sekaligus akrab dan asing,” tuturnya.
Jurnalis Hanh An An, yang kerap menjadi pembawa acara di berbagai malam musik Trinh Cong Son, menyebut musiknya sebagai “obat untuk jiwa” dan lirik-liriknya sebagai filosofi yang akan terus bisa direnungkan. Ia mengutip sejumlah kalimat yang ia yakini relevan, termasuk “hidup terlalu singkat untuk bersikap acuh tak acuh.” Menurutnya, ketika orang berusaha hidup tanpa saling mencela, mereka dapat menemukan kedamaian dan ketenangan.
Hanh An An juga menyatakan sependapat dengan penulis Hoang Phu Ngoc Tuong yang menggambarkan musik Trinh Cong Son sebagai “doa di tepi jurang”—sebuah penyelamatan jiwa ketika manusia berada dalam keputusasaan.
Sementara itu, penyair Anh Ngoc mengatakan ia pernah bertemu orang-orang yang mencintai musik Trinh Cong Son tanpa syarat, termasuk mereka yang usianya setara anak atau cucunya. Ia menilai cara seseorang memandang musik Trinh Cong Son memang bisa dipengaruhi usia dan pengalaman hidup, tetapi yang lebih menentukan adalah kedekatan spiritual. Ketika orang memiliki “ritme spiritual” yang sama, perbedaan usia atau keadaan menjadi tidak terlalu penting.
“Saya terkadang takjub dengan pemahaman yang mendalam dan kemampuan luar biasa dari kaum muda untuk mengungkapkan dunia Trinh yang kompleks. Sekalipun mereka kurang pengalaman, mereka mengimbanginya dengan kejujuran dan tingkat kebebasan diri yang tinggi; mereka dapat mengekspresikan diri tanpa rasa takut atau menyembunyikan cinta mereka,” kata Anh Ngoc.
Seperempat abad setelah kepergiannya, karya Trinh Cong Son terus menemukan cara untuk hadir kembali: melalui kenangan para pendengar, panggung-panggung musik, dan pembacaan baru oleh generasi penerus. Bagi banyak orang, lagu-lagunya tetap menjadi tempat pulang—untuk merawat duka, memulihkan harapan, dan mengingat bahwa hidup, seperti yang kerap dikutip, terlalu singkat untuk bersikap acuh tak acuh.

