Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memiliki salah satu warisan budaya yang masih hidup hingga kini, yakni Wayang Topeng Jatiduwur. Seni pertunjukan topeng tradisional ini lahir dan berkembang di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, dan dikenal bukan sekadar tontonan, melainkan sarat nilai sakral, sejarah, serta filosofi.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya, Isma Hakim Rahmat, menjelaskan bahwa pementasan Topeng Jatiduwur memiliki kemiripan dengan pertunjukan wayang kulit. Dalam pementasannya, dalang memegang peran sentral untuk mengatur jalannya cerita sepanjang pertunjukan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, topeng-topeng tersebut diciptakan oleh Ki Purwo, warga Jatiduwur yang disebut sebagai dalang pertama. Hingga kini, topeng-topeng itu disimpan di dalam kotak yang dianggap sakral di rumah salah satu keturunan Ki Purwo.
Jumlah topeng yang disimpan disebut mencapai 33 buah. Masyarakat setempat meyakini topeng-topeng itu memiliki kekuatan magis. Dalam cerita turun-temurun, apabila tidak ada yang mengurusnya, topeng-topeng tersebut diyakini “diminta” untuk dikembalikan ke lokasi ringin, yakni pohon beringin tempat Ki Purwo disebut pernah bertapa, yang kini dikenal sebagai punden di desa setempat.
Salah satu topeng yang dianggap paling istimewa adalah Topeng Klono. Topeng berwarna emas dengan kesan wajah priyayi dan kesatria ini dipercaya dapat menjadi sarana penyembuhan penyakit warga. Karena itu, perawatannya tidak dilakukan sembarangan.
Seusai pementasan, topeng-topeng tidak langsung disimpan begitu saja. Ada tata cara yang dijalankan: topeng dimasukkan ke pembungkus, kemudian ditempatkan kembali ke dalam kotak sakral, serta ditaburi bunga. Karena nilai sakral tersebut, topeng asli disebut jarang dipakai untuk latihan. Para penari biasanya menggunakan topeng duplikasi saat berlatih.
Dalam praktiknya, Topeng Jatiduwur kerap digunakan sebagai media untuk menepati nazar atau janji. Pertunjukan ini biasanya digelar oleh warga yang memiliki hajat atau merasa berkewajiban melaksanakan sesuatu.
Isma Hakim Rahmat juga menyebut bahwa dahulu pementasan topeng sering dibawakan penari berusia di atas 50 tahun. Namun belakangan mulai terjadi regenerasi. Pemuda dan pemudi setempat mulai dilibatkan dalam pertunjukan, meski sementara ini belum memegang peranan yang terlalu penting dalam adegan tarian.
Peran dalang tetap menjadi kunci. Selain mengarahkan penari yang menampilkan gerak tari sebagai ekspresi tokoh, dalang juga membawakan catur, yakni narasi dan dialog, sebagaimana dalam pertunjukan wayang kulit.
Lakon yang dipentaskan dalam Topeng Jatiduwur bersumber dari Sastra Panji, kumpulan cerita klasik dari masa Jawa zaman klasik yang mengisahkan kepahlawanan dan cinta. Tokoh utama yang kerap tampil adalah Panji Inu Kertapati dan pasangannya, Dewi Sekartaji, dengan latar masa Kerajaan Kadiri atau Jenggala.
Dua cerita yang disebut paling umum dipentaskan ialah Patah Kuda Narawangsa atau Sekartaji Kembar, yang mengisahkan perjalanan Dewi Sekartaji untuk menemukan jati dirinya sebelum kembali bersama Panji Inu Kertapati, serta Wiruncana Murca, yang berkisah tentang perjuangan Panji Inu Kertapati dalam mendapatkan cinta Dewi Sekartaji. Meski demikian, alur cerita disebut dinamis dan dapat berkembang sesuai kreativitas dalang.
Sastra Panji sendiri tidak hanya dikenal di Jombang atau Jawa Timur. Versi turunannya disebut hadir dalam berbagai cerita rakyat, seperti Golek Kencana, Ande-Ande Lumut, dan Keong Mas. Sastra Panji juga memiliki banyak versi di sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, hingga Kalimantan, serta dikenal di berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.
Dengan kekhasan dan nilai yang menyertainya, Wayang Topeng Jatiduwur menjadi salah satu warisan budaya yang masih dijaga keberlangsungannya. Regenerasi penari dan pelestarian tradisi perawatan topeng menjadi bagian penting agar kesenian ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.