KEDIRI KOTA—Taman Sekartaji pada Minggu pagi (4/3) tampak semarak dengan beragam pertunjukan seni dan sastra yang digelar di ruang terbuka hijau tersebut. Acara bertajuk “Kapan Kita Ketemu Lagi?” menghadirkan musik, teater, pembacaan puisi, pantomim, hingga sablon on the spot.
Kegiatan ini digagas oleh kumpulan komunitas seni sastra se-Kediri Raya. Selain menjadi ajang temu kangen, acara tersebut juga ditujukan untuk mengedukasi pengunjung taman agar lebih mengenal seni dan sastra.
Sejak pagi, area taman sudah dipenuhi anak-anak muda dari berbagai komunitas yang menampilkan aksi di tengah pengunjung. Salah satunya penampilan pantomim dari TT Mime yang berlangsung di antara kerumunan. Para pemain pantomim juga berinteraksi langsung dengan penonton, terutama anak-anak.
“Di setiap pementasan pantomim kami selalu sebisa mungkin mengajak komunikasi penonton. Terlebih mengajak anak-anak bermain,” kata Chandra Eka Setiawan, salah seorang pemain pantomim.
Chandra yang memiliki nama panggung Tile tampil bersama Lukman Aditya dengan nama panggung Timbul. Aksi mereka memancing tawa penonton, namun tetap menyelipkan pesan moral. Dalam salah satu adegan, Chandra memeragakan gerakan “menyetir” manusia yang berujung pada tindakan merusak alam.
Mahasiswa ITS itu menjelaskan, gerakan tersebut juga dimaksudkan sebagai gambaran tentang pemimpin yang “disetir” oleh oknum tak bertanggung jawab, sementara pihak yang menyetir pun digambarkan masih dikendalikan oleh “tangan-tangan yang tidak terlihat”. Chandra diketahui berasal dari Kelurahan/Kecamatan Pare.
Ketua pelaksana acara, Puguh Asmani, menyebut kegiatan ini menjadi wadah berkumpulnya komunitas seni sastra se-Kediri Raya. Ia mengatakan, pertemuan keempat kali ini mengusung konsep berbeda karena sebelumnya acara “Kapan Kita Ketemu Lagi?” lebih sering diadakan untuk kalangan sendiri, sedangkan kali ini dibawa ke ruang publik.
“Setidaknya kami ingin menghibur para pengunjung sekaligus mengedukasi tentang seni sastra,” ujar Puguh yang aktif di Taman Baca Mahanani.
Selain pertunjukan, kegiatan juga diisi pameran karya. Di antaranya pameran foto yang diikuti Komunitas Foster. Komunitas Sablon Berdonasi turut meramaikan acara dengan membuka sablon di bawah pohon trembesi. Hasil penjualan sablon disebut akan diberikan kepada orang yang tidak mampu.
“Kami harapkan kegiatan seperti ini nantinya bisa terus berkelanjutan,” kata Puguh yang berasal dari Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih.