Upaya memahami faktor-faktor yang membentuk kesejahteraan dan kebahagiaan warga tidak hanya dilakukan di Finlandia. Sejumlah negara lain juga mengembangkan penelitian jangka panjang untuk mengikuti kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu, dengan tujuan menghasilkan temuan yang dapat memengaruhi kebijakan publik.
Inggris, misalnya, memiliki tradisi panjang dalam penelitian longitudinal melalui studi kohort kelahiran. Penelitian ini mengikuti kelompok orang yang lahir pada tahun 1946, 1958, dan 1970. Temuan dari studi-studi tersebut disebut telah secara bertahap membentuk ulang kebijakan nasional, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Studi terbaru di Inggris, Millennium Cohort Study, memberikan gambaran mengenai kesehatan mental remaja. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada 2015–2016, hampir satu dari empat anak perempuan melaporkan gejala depresi pada usia 14 tahun. Temuan ini kemudian mendorong lahirnya strategi pemerintah baru untuk menangani persoalan tersebut.
Model penelitian serupa juga berkembang di berbagai negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Selandia Baru. Melalui pengamatan jangka panjang, studi-studi ini berupaya mengidentifikasi pola dan faktor yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Pertanyaannya, apakah Finlandia pada akhirnya dapat menemukan “kode” yang menjelaskan apa yang membuat sebuah bangsa benar-benar bahagia? Harapan itu ada, namun tantangannya besar—dan, sebagaimana digambarkan, waktu yang tersedia untuk memahaminya seolah hanya satu abad.