Serial ultra-pendek—sering disebut serial vertikal—kian menonjol di Korea Selatan dan mulai dipandang sebagai salah satu titik balik baru dalam industri hiburan negara itu. Format ini menampilkan episode berdurasi hanya beberapa menit, dibuat dalam tampilan vertikal untuk ditonton lewat ponsel. Satu judul biasanya terdiri dari beberapa lusin hingga sekitar 100 episode, dengan pola akhir episode yang kerap ditutup pada momen klimaks.
Model serial mikro ini berakar dari Tiongkok, yang menawarkan produksi berbiaya lebih hemat sekaligus menyesuaikan kebiasaan pengguna modern yang mengonsumsi hiburan singkat di sela waktu. Awalnya dipasarkan terutama untuk kebutuhan domestik, serial mikro Tiongkok justru berkembang menjadi sumber pendapatan di pasar internasional. Perusahaan konsultan Owl & Co. memproyeksikan serial mikro Tiongkok dapat menghasilkan pendapatan sebesar 1,4 miliar dolar AS di Amerika Utara pada 2025.
Di Korea Selatan, kemunculan serial ultra-pendek menguat dalam dua tahun terakhir, seiring menurunnya jumlah serial televisi yang tayang dan berbagai kesulitan yang dihadapi pasar televisi domestik. Perbedaan biaya produksi menjadi salah satu faktor pendorong. Sebuah serial televisi Korea umumnya membutuhkan sekitar 1,5 miliar won per episode, sementara film layar lebar rata-rata menghabiskan 10–15 miliar won. Sebaliknya, produksi serial super pendek disebut hanya memerlukan sekitar 50 juta won per episode.
Dari sisi proses, serial ultra-pendek juga dinilai lebih lincah. Waktu syutingnya berkisar 1–3 minggu, tidak membutuhkan banyak tenaga kerja, dan naskah dapat diubah secara fleksibel selama produksi atau menyesuaikan tren penonton.
Meski relatif baru, kontribusi serial ultra-pendek terhadap perputaran pendapatan di Korea Selatan disebut semakin besar. Kakao Ventures memperkirakan nilai pasar serial ultra-pendek Korea Selatan mencapai 650 miliar won pada 2024, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 10%. Nilai itu melampaui setengah dari total pendapatan box office film layar lebar Korea Selatan, yang diperkirakan sekitar 1,26 triliun won pada tahun yang sama.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah pembuat film dan produser ternama mengalihkan perhatian ke format baru ini. Pada Februari 2026, serial berjudul My Baby Daddy is My Best Friend dilaporkan cepat menarik perhatian dan konsisten menempati peringkat teratas harian di Lezhin Snack, platform serial ultra-pendek baru di Korea Selatan. Serial itu dikaitkan dengan Lee Byeong Heon, sutradara yang dikenal sebagai figur besar di industri film Korea Selatan. Nama lain yang disebut turut meramaikan persaingan adalah sineas veteran Lee Joon Ik, yang sedang memproduksi serial ultra-pendek berjudul Father's Home Cooking.
Perusahaan besar di industri juga mulai bergerak. Showbox, distributor film terbesar di Korea Selatan, dilaporkan telah menyelesaikan syuting dua serial ultra-pendek dan menandatangani perjanjian distribusi dengan platform global DramaBox dan Vigloo, dengan rencana rilis pada 2026. Studio Genie juga bermitra dengan DramaBox pada April dan memfokuskan diri pada produksi serial ultra-pendek. Sementara itu, Tving—layanan streaming domestik terbesar di Korea Selatan—telah meluncurkan bagian khusus serial ultra-pendek dan mulai memproduksi karya-karyanya sendiri.
Rangkaian perkembangan ini mengindikasikan adanya transformasi baru dalam industri film dan televisi Korea Selatan, yang berpotensi mengubah struktur industri di masa depan.