BERITA TERKINI
Sembilan Kesalahan Pengasuhan Ayah yang Kerap Tak Disadari dan Bisa Berdampak pada Anak

Sembilan Kesalahan Pengasuhan Ayah yang Kerap Tak Disadari dan Bisa Berdampak pada Anak

Peran ayah dalam keluarga kerap dipandang sebagai pelindung, pencari nafkah, sekaligus panutan. Namun, tanggung jawab ayah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi. Kehadiran emosional, dukungan, kasih sayang, dan kedekatan dengan anak juga menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka.

Dalam praktiknya, sejumlah ayah bisa melakukan kekeliruan pengasuhan tanpa disadari. Niat yang baik terkadang berujung pada dampak yang tidak diharapkan ketika pendekatan yang dipilih kurang tepat. Kesibukan pekerjaan, tekanan sosial, hingga pola asuh yang diwariskan dari generasi sebelumnya dapat membuat ayah terjebak pada kebiasaan yang tidak sehat. Berikut sembilan kesalahan yang kerap terjadi.

1. Memberikan hukuman fisik
Sebagian ayah masih menganggap hukuman fisik sebagai cara efektif untuk mendisiplinkan anak, misalnya memukul, mencubit, atau menarik tangan anak. Padahal, cara ini dinilai tidak efektif dan berisiko mengganggu kondisi psikologis anak. Anak dapat menyimpan rasa takut, dendam, dan trauma, bahkan meniru kekerasan dalam interaksi sosialnya. Hukuman fisik juga dapat menanamkan pesan bahwa konflik diselesaikan dengan kekuatan, bukan komunikasi.

2. Terlalu sering menggurui
Kebiasaan memberi ceramah panjang saat anak berbuat salah, tanpa ruang berdiskusi, dapat membuat anak merasa tidak dihargai. Alih-alih membentuk karakter, pola ini justru berpotensi menciptakan jarak komunikasi. Pendekatan dialog—menanyakan alasan tindakan anak dan mencari solusi bersama—dinilai lebih membantu membangun rasa saling percaya.

3. Marah yang tidak terkendali
Marah adalah hal wajar, tetapi kemarahan yang meledak-ledak seperti berteriak, mengumpat, atau merusak barang dapat menjadi contoh buruk bagi anak. Anak berpotensi meniru cara tersebut ketika menghadapi masalah. Mengelola emosi, seperti menarik napas, menjauh sejenak dari situasi, atau berpikir sebelum merespons, dapat membantu mencegah ledakan yang merusak hubungan dengan anak.

4. Tidak kompak dengan orang tua lain
Ketika ayah dan ibu tidak sejalan dalam mendisiplinkan anak—misalnya ayah membatalkan konsekuensi yang telah ditetapkan ibu di depan anak—anak bisa belajar “memainkan” orang tua untuk mendapatkan keinginannya. Ketidakkonsistenan ini dapat melemahkan otoritas orang tua dan memicu perilaku manipulatif. Karena itu, komunikasi dan kesepakatan strategi pengasuhan yang selaras menjadi penting.

5. Membandingkan anak dengan orang lain
Membandingkan anak dengan saudara, sepupu, atau teman sebaya kerap dilakukan dengan tujuan memotivasi. Namun, perbandingan justru dapat melukai harga diri anak dan membuatnya merasa tidak cukup baik. Setiap anak memiliki potensi dan keunikan masing-masing. Fokus pada kelebihan, minat, dan pencapaian kecil anak dinilai lebih membantu membangun rasa percaya diri.

6. Memberikan konsekuensi yang tidak relevan
Konsekuensi merupakan bagian dari disiplin, tetapi perlu relevan dengan pelanggaran. Jika anak tidak merapikan mainan, konsekuensi yang terkait akan lebih mudah dipahami ketimbang hukuman yang terlalu jauh hubungannya. Relevansi dan konsistensi membantu anak mengaitkan tindakan dengan akibat, sehingga lebih mudah belajar dari kesalahan.

7. Tidak konsisten dalam aturan
Aturan yang berubah-ubah—misalnya hari ini anak dimarahi karena tidur larut, tetapi besok dibiarkan—dapat membingungkan anak dalam memahami batas perilaku yang diterima. Konsistensi membantu membentuk karakter dan kedisiplinan, serta mengajarkan anak bertanggung jawab terhadap tindakannya.

8. Membuat anak merasa bersalah
Dalam kondisi tertekan, sebagian ayah bisa melontarkan kalimat yang menyalahkan anak, seperti mengatakan dirinya lelah karena anak nakal. Ucapan seperti ini dapat menanamkan rasa bersalah yang mendalam dan membuat anak merasa menjadi beban. Menjelaskan perasaan tanpa menyalahkan, disertai konsekuensi yang logis dan mendidik, dinilai lebih tepat.

9. Menyuap anak dengan hadiah
Memberi hadiah agar anak berperilaku baik bisa terlihat sebagai solusi cepat, tetapi berisiko membentuk kebiasaan yang tidak sehat. Anak dapat belajar bahwa hadiah adalah tujuan utama, bukan pemahaman nilai perilaku baik itu sendiri. Pendekatan yang menekankan bahwa perilaku baik adalah pilihan yang benar, bukan semata demi imbalan, dinilai lebih membangun motivasi dari dalam.

Pada akhirnya, menjadi ayah bukan hanya soal memberi nafkah, melainkan juga hadir secara emosional dan memberi teladan. Banyak kesalahan pengasuhan terjadi bukan karena niat buruk, melainkan karena kurangnya kesadaran. Dengan mengenali kekeliruan yang kerap muncul tanpa disadari, ayah dapat memperbaiki pola asuh dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak.