Mendengarkan lagu bernada ceria kerap dianggap sebagai cara sederhana untuk memperbaiki suasana hati. Sejumlah lagu populer seperti “Get Happy” dari Judy Garland hingga “Happy” dari Pharrell Williams sering diasosiasikan dengan efek tersebut. Riset dari University of Missouri (MU) memperkuat anggapan itu, dengan catatan: musik ceria lebih efektif ketika disertai upaya sadar untuk merasa lebih bahagia.
Peneliti Yuna Ferguson, yang melakukan studi saat menempuh program doktoral di MU pada bidang psikologi, menyatakan temuan ini mendukung kebiasaan banyak orang yang menggunakan musik untuk meningkatkan mood. Menurutnya, meski pencarian kebahagiaan pribadi kadang dipandang egois, riset menunjukkan kebahagiaan berkaitan dengan kemungkinan lebih besar munculnya sifat yang menguntungkan secara sosial, kesehatan fisik yang lebih baik, pendapatan lebih tinggi, serta kepuasan hubungan sosial yang lebih besar.
Dalam dua studi yang dipublikasikan dan dikutip Science Daily pada Jumat (6/11/2015), Ferguson melaporkan partisipan dapat meningkatkan perasaan hati dalam waktu singkat, dan meningkatkan kebahagiaan secara keseluruhan dalam periode dua minggu.
Pada studi pertama, suasana hati partisipan meningkat setelah mereka berupaya membuat diri lebih bahagia, tetapi hanya ketika mereka mendengarkan musik ceria karya Copeland. Efek serupa tidak muncul saat partisipan mendengarkan musik yang lebih suram dari Stravinsky. Sementara itu, partisipan yang hanya mendengarkan musik tanpa upaya untuk mengubah suasana hati tidak melaporkan perubahan kebahagiaan.
Studi kedua menunjukkan hasil sejalan. Partisipan melaporkan tingkat kebahagiaan lebih tinggi setelah mengikuti sesi laboratorium selama dua minggu, ketika mereka mendengarkan musik positif sambil berusaha menjadi lebih bahagia. Tingkat kebahagiaan kelompok ini lebih tinggi dibanding partisipan yang hanya mendengarkan musik.
Meski demikian, Ferguson mengingatkan agar orang tidak terjebak pada introspeksi berlebihan, misalnya dengan terus-menerus bertanya, “apakah saya sudah bahagia?” Ia menyarankan agar orang lebih berfokus menikmati pengalaman dalam proses menuju kebahagiaan, alih-alih menghitung-hitung seberapa banyak kebahagiaan yang telah dicapai.
Temuan Ferguson juga memperkuat penelitian sebelumnya yang melibatkan Kennon Sheldon, dosen psikologi di College of Arts and Science MU sekaligus pembimbing doktoral dan wakil penulis studi. Sheldon merujuk pada model Hedonic Adaptation Prevention yang menyatakan bahwa seseorang dapat bertahan pada bagian atas dari “jangkauan” potensi kebahagiaan selama memiliki pengalaman positif dan menghindari keinginan untuk terus menuntut lebih dari apa yang sudah dimiliki.
Sheldon menilai hasil riset tersebut menunjukkan bahwa orang dapat secara sengaja melakukan perubahan mental yang mengarah pada pengalaman baru dalam hidup, dan kesadaran bahwa seseorang sedang melakukannya tidak terbukti menimbulkan efek merugikan.