Anggota Komisi I DPR RI sekaligus Ketua DPP PKB bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi, Iman Sukri, menyoroti kemunculan serial terbaru berjudul Love & 10 Million Dollars yang diproduksi WeTV Indonesia bekerja sama dengan Hitmaker Studios.
Serial yang dibintangi Davina Karamoy dan Giorgino Abraham itu menjadi perbincangan publik karena mengangkat narasi dilema cinta dan uang, disertai sejumlah adegan intim yang dinilai cukup berani.
Iman menilai arah produksi konten semacam itu perlu mendapat perhatian serius karena dianggap tidak selaras dengan nilai budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. “Konten film dan serial seharusnya mencerminkan jati diri bangsa. Jika justru menonjolkan sensualitas dan relasi yang tidak sesuai norma, ini berpotensi mengikis nilai budaya yang selama ini kita jaga,” kata Iman di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, industri perfilman nasional memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik serta membangun karakter generasi muda.
Ia juga menyinggung isi cerita serial tersebut yang menggambarkan hubungan kompleks dipicu tawaran finansial dengan syarat personal yang kontroversial, serta memuat adegan intim sebagai bagian dari alur. Iman mengingatkan, tayangan seperti ini berpotensi membentuk cara berpikir generasi muda secara keliru jika tidak diimbangi nilai edukatif yang kuat.
“Anak-anak muda kita membutuhkan tontonan yang berkualitas, inspiratif, dan membangun. Bukan justru disuguhi narasi yang bisa menormalisasi hubungan transaksional dan eksploitasi sensualitas,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Lebih lanjut, Iman mendesak pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) agar lebih proaktif mengawasi produksi dan distribusi konten digital di Indonesia. “Negara tidak boleh abai. Komdigi harus hadir lebih aktif mengawasi platform digital dan industri film agar tidak kebablasan. Jangan sampai kebebasan berekspresi dijadikan alasan untuk menabrak norma dan nilai budaya bangsa,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya regulasi yang adaptif terhadap perkembangan platform streaming, mengingat konten digital kini mudah diakses oleh masyarakat lintas usia.
Menutup pernyataannya, Iman berharap para pemangku kepentingan industri kreatif lebih bijak dalam memproduksi karya. “Industri film Indonesia harus naik kelas bukan dengan menjual sensasi, tetapi dengan kualitas cerita, nilai, dan pesan yang membangun,” pungkasnya.