Ada nama yang selalu memancing jeda di linimasa: Lionel Messi.
Ketika ia dibicarakan, orang tidak hanya mengingat gol.
Orang juga mencari makna, terutama saat dunia terasa bising dan kepemimpinan sering diperdebatkan.
Itulah sebabnya tulisan tentang “Messi dan Seni Kepemimpinan” ikut menanjak di percakapan publik.
Ia bukan sekadar cerita sepak bola.
Ia menjadi pintu masuk untuk membahas cara memimpin, cara bekerja bersama, dan cara sebuah sistem bertahan.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, Messi adalah simbol universal tentang keunggulan.
Ketika simbol itu dikaitkan dengan kepemimpinan, publik merasa sedang membahas diri sendiri.
Orang membaca Messi, lalu diam-diam mengukur bosnya, organisasinya, bahkan negaranya.
Kedua, narasi ini menabrak mitos “pahlawan tunggal”.
Di era yang menyukai tokoh besar, tulisan ini mengingatkan bahwa kemenangan tak lahir dari sepasang kaki saja.
Kontras ini memicu diskusi, karena banyak orang lelah pada gaya memimpin yang serba satu orang.
Ketiga, bahasannya memadukan emosi dan konsep.
Messi memberi rasa, sementara teori kepemimpinan memberi kerangka.
Kombinasi itu mudah dibagikan, mudah diperdebatkan, dan terasa “berguna” untuk kehidupan sehari-hari.
-000-
Messi, Qatar 2022, dan Pelajaran yang Sering Luput
Lionel Messi bisa menggiring bola melewati tiga pemain dan mencetak gol.
Ia bisa mengubah ruang sempit menjadi jalan raya yang lapang.
Ia bisa membuat stadion menahan napas dengan satu sentuhan kaki kiri.
Namun Piala Dunia tidak pernah dimenangkan sendirian.
Qatar 2022 mencatat Messi mengangkat trofi yang lama ia rindukan.
Sejarah juga mencatat Emiliano Martinez meraih Golden Glove.
Enzo Fernandez dinobatkan sebagai pemain muda terbaik.
Di balik dongeng yang tampak personal, ada kerja kolektif yang tak selalu masuk sorotan kamera.
Ada penyelamatan kiper, ada gelandang muda yang menjaga napas permainan.
Ada pelatih yang menyusun strategi, dan rekan-rekan yang berlari ketika sang kapten dikepung.
Sepak bola mengajarkan satu hal sederhana.
Kemenangan tidak lahir dari ketenaran, melainkan dari koordinasi.
Ada umpan yang membuka jalan.
Ada tekel yang memutus serangan.
Ada bangku cadangan yang menjaga harapan tetap menyala.
Dan ada suporter yang menahan cemas agar keyakinan tidak runtuh.
-000-
Kepemimpinan: Wajah Boleh Satu, Tubuh Harus Banyak
Tulisan ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal berdiri paling depan sendirian.
Kepemimpinan adalah kemampuan membuat banyak orang bergerak dalam irama yang sama.
Pemimpin boleh menjadi wajah.
Tetapi ia tidak boleh menjadi seluruh tubuh.
Kepala memang penting.
Namun kaki harus kuat, jantung harus berdetak, dan paru-paru harus memberi napas.
Tanpa itu, organisasi seperti patung besar.
Dikagumi dari jauh, tetapi tidak sanggup berjalan ke mana-mana.
Di lapangan, kapten bukan yang paling sering menunjuk-nunjuk.
Kapten adalah yang membuat tim tetap percaya ketika papan skor sedang jahat.
Ia tidak harus banyak bicara.
Kadang cukup tatapan, tepukan bahu, atau cara ia tetap mengejar bola saat tubuh lelah.
Standar yang ia jaga menjadi pesan diam-diam.
Kalau yang paling hebat masih mau berlari, apa alasan yang lain berhenti.
-000-
Dari Transformasional ke Melayani: Dua Lensa untuk Membaca Messi
Dalam teori kepemimpinan transformasional, pemimpin yang baik bukan sekadar memberi perintah.
Ia mengangkat moral, motivasi, dan arah bersama.
James MacGregor Burns dan Bernard Bass menjelaskan, pengikut tidak hanya patuh.
Mereka ikut merasa memiliki tujuan.
Pemimpin seperti ini tidak hanya berkata “Ikuti saya!”
Ia membuat orang lain berkata, “Ini juga perjuangan saya.”
Namun kepemimpinan tidak cukup hanya inspiratif.
Ia juga harus melayani.
Robert K. Greenleaf memperkenalkan gagasan servant leadership.
Pemimpin membesarkan orang lain, membagi kuasa, dan menempatkan pertumbuhan anggota sebagai bagian keberhasilan.
Di titik ini, Messi menjadi contoh yang “enak dibaca”.
Ia besar, tetapi tidak membuat semua orang kecil.
Argentina tetap punya Di Maria, De Paul, Alvarez, Enzo, Martinez, dan Scaloni.
Messi mungkin pusat gravitasi.
Tetapi ia bukan satu-satunya planet dalam tata surya.
-000-
Kepemimpinan Terdistribusi: Mengapa Tim yang Sehat Tidak Bergantung pada Satu Orang
Bahaya terbesar organisasi adalah ketika semua hal menunggu satu suara.
Semua menunggu restu.
Semua menunggu “sabda”.
Regenerasi lalu mati pelan-pelan.
Seperti rumput lapangan yang tak pernah disiram karena semua orang fokus menatap papan skor.
Karena itu, kepemimpinan perlu terdistribusi.
Teori distributed leadership menekankan kepemimpinan sebagai praktik bersama.
Ia hidup dalam interaksi, pembagian peran, dan saling ketergantungan.
Alma Harris menyebutnya kolaboratif, kolektif, dan saling bergantung.
Bukan sekadar membagi tugas administratif.
Organisasi sehat melahirkan pemimpin-pemimpin kecil di banyak titik.
Ada yang memimpin gagasan.
Ada yang memimpin teknis.
Ada yang memimpin emosi tim.
Ada yang menjaga moral ketika situasi buruk.
Di sepak bola, itu tampak nyata.
Bukan hanya kapten, tetapi juga ruang ganti, staf medis, pelatih, dan suporter.
-000-
Cermin bagi Indonesia: Institusi, Regenerasi, dan Godaan Kultus Individu
Di Indonesia, perdebatan kepemimpinan sering terjebak pada figur.
Nama, gaya bicara, gestur, dan citra.
Padahal yang menentukan ketahanan adalah sistem.
Sepak bola memberi bahasa yang mudah.
Negara bukan hanya bintang.
Negara adalah tim, latihan, bangku cadangan, dan strategi jangka panjang.
Ketika kepemimpinan terlalu personal, organisasi bergerak bukan karena visi.
Ia bergerak karena takut.
Akibatnya, orang berhenti berpikir.
Orang hanya menebak arah angin, lalu menunggu instruksi.
Isu besar yang tersambung di sini adalah penguatan institusi dan kaderisasi.
Baik di birokrasi, kampus, partai politik, maupun komunitas warga.
Indonesia memerlukan kesinambungan kerja yang tidak runtuh saat satu figur pergi.
Dan memerlukan ruang aman agar banyak orang bisa memimpin dari tempatnya masing-masing.
-000-
Pelajaran Perbandingan: Iran dan China sebagai Studi tentang Lapisan Sistem
Tulisan ini mengajak pembaca menengok Iran.
Iran bertahan dalam berbagai tekanan karena memiliki jaringan institusi, elite, aparat keamanan, ideologi, dan mekanisme loyalitas.
Pelajarannya bukan meniru sisi represifnya.
Pelajarannya membedakan daya tahan sistem dari kualitas moral sistem.
Sebuah kajian menyoroti bagaimana institusi menopang otoritas pemimpin tertinggi.
Ia juga mencatat posisi penting IRGC dalam struktur kekuasaan dan status quo Iran.
Intinya sederhana.
Organisasi yang ingin bertahan harus menyiapkan lapisan.
Harus ada orang kedua, ketiga, keempat, bahkan “kesebelasan cadangan”.
Dari Iran, tulisan itu melompat ke China.
Setelah era Mao Zedong yang sangat personalistik, Deng Xiaoping berusaha membangun pola lebih kolektif dan terlembaga.
Ada pembatasan masa jabatan, usia pensiun, dan suksesi yang lebih teratur.
Sebuah kajian jurnal melaporkan suksesi damai pada era Jiang Zemin dan Hu Jintao.
Itu pernah menjadi sumber daya tahan politik China pasca Mao.
Namun pada era Xi Jinping, terjadi kembali penguatan kekuasaan yang lebih personalistik.
Dua pelajaran muncul sekaligus.
Regenerasi membuat sistem tidak mudah roboh.
Regenerasi bisa mundur jika institusi kalah oleh kultus individu.
-000-
Referensi Serupa di Luar Negeri: Ketika Ketergantungan pada Satu Bintang Menjadi Risiko
Di banyak negara, perdebatan tentang kepemimpinan sering berputar pada pertanyaan yang sama.
Apakah organisasi sedang membangun institusi, atau sedang membangun panggung bagi satu orang.
Dalam olahraga, pertanyaan itu sering muncul saat sebuah tim terlalu bergantung pada satu pemain bintang.
Ketika sang bintang cedera atau pensiun, performa tim menurun.
Di dunia korporasi global, diskusi serupa muncul saat perusahaan terlalu identik dengan satu pendiri.
Transisi kepemimpinan menjadi ujian, bukan sekadar pergantian jabatan.
Intinya sejalan dengan pesan tulisan ini.
Ketahanan tidak boleh disandarkan pada satu nama.
Ia harus ditopang oleh proses, peran, dan budaya kerja.
-000-
Bagaimana Sebaiknya Isu Ini Ditanggapi
Pertama, publik perlu merawat cara membaca yang tidak terjebak kultus.
Mengagumi Messi sah.
Namun pelajaran utamanya adalah kerja kolektif, bukan pemujaan individu.
Kedua, organisasi di Indonesia perlu menormalisasi kaderisasi.
Siapkan pelapis, beri ruang belajar, dan ukur keberhasilan dari tumbuhnya kemampuan orang lain.
Ketiga, pemimpin perlu sadar bahwa standar dan teladan sering lebih kuat daripada retorika.
Seperti kapten yang tetap mengejar bola saat lelah.
Keempat, institusi perlu menguatkan mekanisme berbagi peran.
Distributed leadership bukan slogan.
Ia harus tampak pada keputusan, delegasi, dan keberanian memberi kepercayaan.
Kelima, masyarakat perlu mengapresiasi “assist” dan kerja tak terlihat.
Budaya yang hanya memuja pencetak gol akan membuat banyak orang enggan bekerja dalam sunyi.
-000-
Penutup: Kemenangan yang Paling Manusiawi
Messi adalah legenda, tetapi Argentina juara karena ia tidak bermain sendirian.
Dalam organisasi, masyarakat, dan negara, pesan itu terasa dekat.
Kita tidak cukup punya satu bintang.
Kita butuh tim yang bekerja, pelatih yang berpikir, bangku cadangan yang siap, suporter yang dewasa, dan sistem yang tidak rapuh.
Pemimpin terbaik bukan yang membuat semua mata menatap dirinya.
Pemimpin terbaik adalah yang membuat permainan tetap hidup, bahkan ketika ia tidak ada di lapangan.
Seperti kutipan yang sering diulang dalam berbagai ruang pembelajaran kepemimpinan: “Kepemimpinan adalah tentang membuat orang lain menjadi lebih baik karena kehadiran Anda, dan memastikan dampak itu bertahan ketika Anda pergi.”