Pemerintah mulai menggelorakan kebangkitan sastra dan seni budaya nasional melalui dukungan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon terhadap Gelar Seni Budaya Indonesia MORSA (Musik Tradisional, Orkestra dan Sastra). Kegiatan ini diproyeksikan menjadi panggung kolaborasi kreatif antara generasi muda dan para maestro budaya Indonesia.
Dukungan tersebut disampaikan Fadli Zon saat menerima audiensi sejumlah budayawan yang tergabung dalam tim MORSA di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. Ia menilai kegiatan berbasis komunitas berpotensi memberi dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat eksistensi budaya lokal di tingkat nasional.
“Ekosistem sastra tentu memerlukan kolaborasi semua pihak. Harus ada sinergi dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan, bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan kesadaran bersama,” ujar Fadli dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut Fadli, pengembangan sastra tidak dapat berjalan sendiri tanpa keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan pelaku seni. Ia menjelaskan pemerintah berperan dalam memberikan dukungan dan fasilitasi, sementara perguruan tinggi berkontribusi melalui penguatan edukasi kebudayaan. Adapun pelaku budaya dinilai menjadi ujung tombak dalam melahirkan karya sastra inovatif yang relevan dengan perkembangan zaman.
Fadli juga menyebut agenda MORSA sejalan dengan visi Kementerian Kebudayaan dalam memajukan budaya sastra melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN). “Kita memang harus membangun segmen, misalnya bagaimana ada apresiasi terhadap karya-karya seni yang dapat memunculkan kerja sama dengan pihak-pihak terkait,” katanya.
Sementara itu, budayawan Bambang Oeban mengatakan MORSA digagas untuk melanjutkan estafet sastra dari para maestro kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih modern dan atraktif. “MORSA menjadi perwujudan bahwa sastra dapat dikemas dan dikembangkan menjadi kebutuhan masa kini, sehingga ada sentuhan teatrikal, monolog, dramaturgi, dan kreativitas multimedia,” ujarnya.