Jam paling akurat di dunia dapat berdetak stabil dan hanya meleset sekitar satu detik dalam 300 juta tahun. Namun, ketepatan semacam itu tidak selalu sejalan dengan pengalaman manusia. Dalam keseharian, banyak orang merasakan waktu seolah berjalan lebih cepat ketika sedang bahagia atau menikmati sesuatu, dan terasa melambat saat bosan.
Menurut ahli saraf Dr. Michael Shadlen dari Columbia University Irving Medical Center, cara otak mempersepsikan waktu berkaitan dengan ekspektasi. Otak, kata dia, dapat mewakili probabilitas bahwa sesuatu akan terjadi berdasarkan apa yang belum terjadi. Shadlen menjelaskan bahwa setiap pemikiran memiliki berbagai “horison” atau batas persepsi—misalnya dalam membaca buku, horison bisa berada di akhir suku kata, akhir kata, akhir kalimat, hingga akhir cerita. Waktu, dalam pengalaman subjektif, bergerak mengikuti cara manusia mengantisipasi horison-horison ini.
Saat seseorang benar-benar asyik, otak cenderung mengantisipasi “gambaran besar” dan melihat horison dekat sekaligus horison jauh. Kondisi ini membuat waktu terasa bergerak cepat. Sebaliknya, ketika jenuh, otak lebih fokus pada horison yang lebih dekat—seperti akhir kalimat, bukan akhir cerita. Karena horison-horison ini tidak menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, waktu pun terasa merangkak.
Shadlen juga menekankan tidak ada satu titik khusus di otak yang bertanggung jawab atas penilaian waktu. Menurutnya, berbagai area yang memunculkan pemikiran dan kesadaran kemungkinan terlibat dalam proses tersebut.
Pandangan serupa disampaikan ilmuwan saraf Joe Paton dari Champalimaud Foundation di Portugal. Ia menyebut hampir pasti terdapat banyak mekanisme pengaturan waktu di otak. Namun, mekanisme waktu subjektif ini tidak terkait dengan ritme sirkadian, yakni sistem tubuh yang mengikuti rotasi 24 jam sehari.
Salah satu mekanisme yang disebut Paton berkaitan dengan kecepatan sel-sel otak saling mengaktifkan dan membentuk jaringan ketika seseorang melakukan suatu kegiatan. Semakin cepat jalur neuron terbentuk, semakin cepat pula manusia memahami waktu.
Mekanisme lain melibatkan bahan kimia otak. Berdasarkan penelitian Paton dan rekan-rekannya menggunakan tikus percobaan, satu set neuron yang melepaskan dopamin—neurotransmitter yang menghantarkan sinyal antarsel saraf—berpengaruh pada cara otak memandang waktu. Ketika seseorang bahagia atau bersenang-senang, neuron ini lebih aktif dan melepaskan lebih banyak dopamin. Dalam kondisi tersebut, otak dapat menganggap waktu yang berlalu lebih sedikit dibanding waktu sebenarnya, sehingga waktu terasa lebih cepat. Sebaliknya, ketika sedih, bosan, atau frustrasi, pelepasan dopamin berkurang dan waktu tampak melambat.
Paton menyebut belum diketahui mengapa otak tidak akurat secara metodis dalam melacak waktu, tetapi ia menilai organ ini unggul dalam konteks evolusi. Ia menggambarkan hidup sebagai rangkaian keputusan untuk bertahan atau berpindah dari suatu situasi. Menurutnya, perasaan semacam itu dapat membantu hewan memutuskan kapan sebuah tempat atau momen cukup menyenangkan untuk ditinggali.
Selain pengalaman saat ini, persepsi waktu juga terkait dengan cara otak memetakan ingatan. Dr. David Eagleman, profesor psikologi pembantu, kesehatan mental publik, dan ilmu kependudukan di Stanford University, menjelaskan bahwa jaringan neuron yang mengode memori baru cenderung lebih padat dibanding jaringan untuk pengalaman yang tidak lagi baru. Ketika seseorang melihat ke belakang, jaringan memori yang lebih padat dapat membuat peristiwa itu terasa berlangsung lebih lama.
Dalam konteks ini, waktu juga kerap terasa berlalu semakin cepat seiring bertambahnya usia. Saat kanak-kanak, banyak hal terasa baru sehingga otak membentuk jaringan memori yang padat untuk merekam pengalaman. Namun ketika dewasa, semakin banyak objek dan peristiwa telah dikenal, sehingga pengalaman baru tidak selalu memicu pembentukan kenangan dengan kepadatan yang sama.