Manusia disebut memiliki dua naluri yang berbeda dan saling berlawanan: keinginan untuk membaur dengan orang lain sekaligus dorongan untuk tetap menjadi penyendiri. Menurut penulis buku Love Cycles: The Five Essential Stages of Lasting Love, Linda Carrol—yang juga terapis keluarga dan pernikahan—dua naluri itu sama-sama penting dalam kehidupan manusia.
Carrol menilai, ketika seseorang bersosialisasi dengan orang lain, peluang untuk merasakan jatuh cinta menjadi lebih besar. Ia mengibaratkannya seperti ikatan bayi yang baru lahir dengan ibunya. Sepasang kekasih yang baru memulai hubungan juga kerap menunjukkan kecenderungan saling mengasihi dan merasa tertarik kuat satu sama lain, seperti magnet yang saling menarik.
Namun, Carrol menekankan bahwa tidak semua orang memiliki keinginan untuk “menyatu” dengan pasangan. Ada orang yang bahkan tidak pernah merasakan jatuh cinta, atau hanya menikmati sensasi pada fase awal yang kemudian cepat memudar dengan sendirinya.
Carrol juga menjelaskan bahwa cara orang menumbuhkan “benih cinta” berbeda-beda. Sebagian memilih membangun kedekatan secara perlahan, dimulai dari pertemanan yang berkembang menjadi kemitraan intim. Meski begitu, menurutnya, hubungan semacam ini bisa saja tidak banyak dibumbui romansa.
Di sisi lain, ada pula orang yang bersosialisasi karena memang berniat mencari pasangan hidup. Ada juga yang memfokuskan diri membangun hubungan kasih dengan mempertimbangkan kesamaan etnis, ras, agama, pendidikan, kelas sosial, serta tujuan hidup.
Carrol menyebut bahwa dalam banyak budaya di berbagai negara, memilih pasangan tidak selalu berkaitan dengan jatuh cinta. Meski demikian, saat menentukan pilihan hati, banyak orang kerap mengaitkan pengalaman hidupnya dengan gambaran romantis dari lagu, film, dongeng, hingga novel.
“Dimabuk cinta” dan perubahan intens
Carrol mengatakan istilah “dimabuk cinta” sering digunakan untuk menggambarkan serangkaian gejala yang berkaitan dengan kecemasan akibat perubahan intens saat seseorang jatuh cinta. Ia juga mengutip pandangan Ibnu Sina (Avicenna), dokter abad ke-10 yang dikenal sebagai bapak kedokteran modern, yang memandang obsesi sebagai penyebab utama kondisi “mabuk cinta”.
Menurut Carrol, perubahan biokimia pada orang yang baru jatuh cinta dapat memunculkan gejala yang mirip dengan gangguan obsesif-kompulsif. Gejala itu antara lain hilangnya nafsu makan dan sulit tidur.
Fantasi tentang orang yang dicintai pun kerap memenuhi pikiran dan hari-hari mereka yang sedang kasmaran. Saat terpisah, mereka cenderung merasa ada sesuatu yang hilang. Jika ketidakhadiran justru membuat perasaan semakin kuat, kondisi itu dapat berujung pada pembicaraan yang terus-menerus tentang kehilangan atau kerinduan pada orang terkasih.
Limerence: fase “gila” saat jatuh cinta
Pada 1979, psikolog Dorothy Tennov memperkenalkan istilah limerence untuk menggambarkan kondisi “gila” yang dapat dialami manusia ketika dirundung cinta. Carrol merangkum sejumlah cirinya, antara lain: memberi penilaian terlalu tinggi pada orang yang dicintai sambil mengecilkan sisi negatifnya; merasakan kerinduan yang akut; muncul rasa “kecanduan” untuk bertemu; suasana hati yang mudah berubah dari bahagia, menderita, cemas, lalu kembali bahagia; terus memikirkan orang tersebut tanpa disadari; serta merasakan penderitaan mendalam ketika hubungan berakhir.
Carrol bahkan menyamakan orang yang sedang kasmaran dengan pecandu alkohol dalam hal ketagihan. Ia menggambarkan bahwa meski seorang pecandu bisa saja mengalami dampak buruk, mereka tetap terdorong mengulanginya. Menurut Carrol, pola serupa dapat terjadi pada pengalaman jatuh cinta.
Ia juga mengutip temuan pencitraan resonansi magnetik yang menunjukkan bahwa nucleus accumbens—bagian otak yang aktif pada orang yang kasmaran—adalah bagian yang sama yang “menyala” pada otak pemakai kokain.