Isu tentang kecerdasan buatan kembali menjadi bahan pembicaraan publik Indonesia.
Kali ini, pemicunya datang dari panggung yang dekat dengan keseharian banyak orang: dunia seni dan industri kreatif.
Nama Lukman Sardi ikut mengangkat percakapan itu ke permukaan.
Dalam puncak AI Content Fest, ia berbagi pandangan tentang AI sebagai teknologi yang layak dilihat dengan kacamata lebih positif.
Di ruang yang sama, sutradara Mouly Surya dan kreator Gustav Anandhita membahas hal serupa.
Benang merahnya jelas.
AI dipandang sebagai alat pendukung yang memperluas eksplorasi dan membuat kerja lebih efisien.
Namun ada catatan yang tidak boleh hilang.
Arah kreatif, rasa, dan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
-000-
Mengapa Isu Ini Mendadak Menjadi Tren
Tren ini lahir dari pertemuan dua arus besar.
Arus pertama adalah ledakan penggunaan AI dalam produksi konten harian.
Arus kedua adalah kegelisahan lama tentang makna kreativitas, otentisitas, dan kerja manusia.
Ketika figur publik bicara, percakapan yang semula teknis menjadi emosional.
Orang tidak hanya membahas fitur.
Mereka membahas masa depan dirinya.
Alasan pertama isu ini menanjak di pencarian adalah kedekatan AI dengan pekerjaan kreatif sehari-hari.
Di ponsel, orang mengedit video, membuat poster, dan menyusun narasi.
AI terasa bukan lagi konsep jauh.
Ia hadir sebagai tombol yang bisa ditekan siapa pun.
Alasan kedua adalah adanya tokoh lintas peran yang berbicara dalam satu panggung.
Aktor, sutradara, dan kreator memotret AI dari sudut berbeda.
Publik menangkapnya sebagai tanda.
Bahwa AI bukan sekadar urusan programmer.
Ia sudah menjadi urusan seni.
Alasan ketiga adalah adanya contoh konkret pemanfaatan AI dalam produksi karya.
Kolaborasi CapCut bersama Raim Laode untuk video musik “Dunia Yang Nanti” memberi bentuk pada debat.
Diskusi menjadi lebih mudah diikuti karena ada karya yang bisa dibayangkan.
-000-
Yang Dikatakan Lukman Sardi: AI sebagai Ruang Persiapan
Lukman Sardi berbicara dari pengalaman aktor.
Ia menempatkan teknologi sebagai penambah referensi, bukan pengganti jiwa.
Menurutnya, teknologi dapat membantu memahami latar belakang karakter.
Ia juga menyebut eksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk adegan.
Kalimat kuncinya ada pada efisiensi.
Dengan persiapan lebih cepat, aktor punya ruang lebih besar untuk fokus pada interpretasi.
Di titik ini, AI diposisikan sebagai penghemat tenaga administratif.
Bukan sebagai penentu rasa.
Pandangan itu terasa penting.
Karena seni peran sering dibangun dari detail kecil yang tidak terlihat kamera.
Sejarah karakter, kebiasaan, dan motivasi.
AI bisa membantu menyusun peta awalnya.
Namun manusia yang harus berjalan di dalamnya.
-000-
Mouly Surya dan Gustav: Efisiensi untuk Menjaga Visi Besar
Mouly Surya menyoroti tahap yang lebih hulu.
Ia berbicara tentang pengembangan ide hingga produksi.
Teknologi memungkinkan eksplorasi ide lebih dini.
Ia menyebut pencarian referensi, visualisasi konsep, dan mencoba arah kreatif sebelum produksi.
Di industri film, waktu adalah biaya.
Efisiensi berarti napas tambahan untuk memikirkan keputusan kreatif yang menentukan hasil akhir.
Gustav Anandhita menekankan sisi eksperimen.
AI, baginya, memperluas eksplorasi sekaligus mempercepat iterasi.
Ia berbicara tentang ruang untuk mencoba pendekatan visual.
Juga tentang membawa ide lebih jauh tanpa kehilangan arah kreatif.
Di sini, AI digambarkan sebagai mesin kemungkinan.
Namun kompasnya tetap manusia.
-000-
Antara Alat dan Otoritas: Di Mana Letak “Rasa”
Diskusi tentang AI sering berakhir pada pertanyaan yang sama.
Siapa yang sebenarnya mencipta.
Di panggung AI Content Fest, jawabannya disusun dengan hati-hati.
AI adalah alat pendukung.
Keputusan akhir tetap manusia.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun ia memuat perdebatan panjang tentang otoritas kreatif.
Dalam seni, “rasa” tidak hanya soal selera.
Ia juga soal tanggung jawab.
Jika karya menyinggung, siapa menanggungnya.
Jika karya memengaruhi publik, siapa menjelaskan niatnya.
Manusia tidak bisa menyerahkan itu pada mesin.
Karena seni hidup dalam relasi sosial.
Dan relasi selalu menuntut akuntabilitas.
-000-
Mengaitkan Isu Ini dengan Isu Besar Indonesia
Pembicaraan tentang AI di seni tidak berdiri sendiri.
Ia menempel pada isu besar Indonesia tentang masa depan kerja.
Industri kreatif menjadi salah satu tumpuan ekonomi modern.
Ketika alat produksi makin mudah, persaingan makin padat.
Nilai tambah tidak lagi hanya pada kemampuan teknis.
Ia bergeser ke orisinalitas gagasan dan ketajaman perspektif.
Isu ini juga terkait pendidikan.
Jika AI mempermudah proses, sekolah dan kampus perlu menata ulang cara menilai karya.
Fokusnya bukan sekadar hasil akhir.
Melainkan proses berpikir, riset, dan argumentasi kreatif.
Isu berikutnya adalah kesenjangan akses.
Teknologi yang mempercepat kerja bisa memperlebar jarak antara yang punya perangkat dan yang tidak.
Indonesia perlu memastikan transformasi digital tidak meninggalkan pelaku kreatif kecil.
Karena kebudayaan tidak hanya lahir di kota besar.
Ia juga tumbuh di pinggiran, komunitas, dan ruang-ruang sunyi.
-000-
Riset yang Relevan: Teknologi sebagai Pengungkit, Bukan Pengganti
Dalam kajian ekonomi inovasi, teknologi sering dipahami sebagai pengungkit produktivitas.
Ia mempercepat tahap tertentu, lalu memindahkan nilai tambah ke tahap lain.
Dalam konteks kreatif, AI dapat mempercepat pencarian referensi dan iterasi visual.
Namun kualitas karya tetap ditentukan oleh penilaian manusia.
Ini sejalan dengan gagasan lama dalam studi kreativitas.
Bahwa kreativitas bukan hanya menghasilkan variasi.
Kreativitas adalah memilih variasi yang bermakna.
AI dapat membantu menghasilkan banyak kemungkinan.
Tetapi pemilihan membutuhkan tujuan, nilai, dan konteks.
Di sinilah peran manusia menjadi inti.
Karena manusia hidup di dalam budaya.
Ia paham simbol, luka kolektif, dan harapan sosial.
Riset tentang kerja kreatif juga menekankan pentingnya “judgment” profesional.
Keputusan kreatif adalah rangkaian pertimbangan.
Apa yang ditampilkan.
Apa yang disembunyikan.
Apa yang disederhanakan demi kejelasan.
AI bisa membantu, tetapi tidak bisa memikul seluruh beban pertimbangan itu.
-000-
Contoh di Luar Negeri: Ketegangan yang Pernah Terjadi
Perdebatan AI dan seni bukan hanya milik Indonesia.
Di luar negeri, isu serupa muncul ketika pekerja kreatif mempertanyakan batas penggunaan AI.
Industri hiburan global beberapa kali diramaikan diskusi tentang perlindungan karya dan peran manusia.
Intinya sama.
Bagaimana menjaga ruang kreatif manusia ketika teknologi mampu meniru pola.
Di banyak negara, responsnya mengarah pada dua jalur.
Jalur pertama adalah perumusan pedoman penggunaan AI di produksi.
Jalur kedua adalah penguatan literasi publik tentang apa yang dibuat manusia dan apa yang dibantu mesin.
Perbandingan ini penting sebagai cermin.
Indonesia tidak perlu menyalin mentah.
Namun Indonesia bisa belajar bahwa debat AI selalu berujung pada tata kelola.
Bukan sekadar kekaguman pada fitur.
-000-
Rekomendasi: Menanggapi dengan Tenang, Tegas, dan Berpihak pada Manusia
Pertama, industri kreatif perlu memperjelas batas peran AI dalam proses kerja.
Jika AI dipakai untuk eksplorasi, katakan eksplorasi.
Jika AI dipakai untuk percepatan teknis, sebut percepatan teknis.
Transparansi menjaga kepercayaan.
Kedua, pelaku kreatif perlu memperkuat kompetensi yang tidak mudah digantikan.
Kepekaan sosial, riset lapangan, dan kemampuan mengolah pengalaman menjadi cerita.
AI bisa membantu menyusun bahan.
Tetapi pengalaman manusia yang memberi bobot.
Ketiga, ruang pendidikan dan komunitas perlu mendorong etika penggunaan teknologi.
Etika bukan sekadar larangan.
Etika adalah kebiasaan bertanya tentang dampak karya terhadap orang lain.
Keempat, publik perlu memandang AI dengan nalar yang tidak panik.
Teknologi bukan musuh, tetapi juga bukan penyelamat.
Ia adalah alat.
Dan alat selalu mengikuti tangan yang memegangnya.
-000-
Penutup: Menjaga Rasa di Tengah Mesin Kemungkinan
Pernyataan Lukman Sardi, Mouly Surya, dan Gustav Anandhita bertemu pada satu titik.
AI dapat memperluas eksplorasi, tetapi manusia tetap pemegang keputusan.
Di era serba cepat, kalimat itu seperti pengingat yang menenangkan.
Bahwa seni bukan lomba siapa paling cepat menghasilkan.
Seni adalah upaya memahami manusia.
Dan manusia tidak pernah sepenuhnya bisa disederhanakan menjadi data.
Ketika teknologi menawarkan jalan pintas, justru di situlah seniman diuji.
Apakah ia tetap bersedia berjalan lebih jauh untuk menemukan makna.
Karena pada akhirnya, yang dicari penonton bukan hanya gambar yang rapi.
Yang dicari adalah rasa yang jujur.
“Teknologi bisa mengubah cara kita bekerja, tetapi hanya manusia yang bisa menentukan untuk apa kita berkarya.”