BERITA TERKINI
Kuas di Tengah Demam Piala Dunia: Berkah Wildan dari Lamongan dan Cermin Ekonomi Kreatif Indonesia

Kuas di Tengah Demam Piala Dunia: Berkah Wildan dari Lamongan dan Cermin Ekonomi Kreatif Indonesia

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Demam Piala Dunia 2026 mendadak punya wajah lain di Indonesia.

Bukan hanya soal skor, susunan pemain, atau perdebatan taktik.

Di Lamongan, gaung itu menjelma pesanan lukisan wajah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Kisah Wildan Solihin, pelukis yang kebanjiran order, lalu ramai dibicarakan.

Trennya bukan semata karena Piala Dunia.

Yang membuat orang berhenti menggulir layar adalah pertemuan antara euforia global dan dapur ekonomi rumah tangga.

Di tengah kabar besar yang sering terasa jauh, publik menemukan cerita yang dekat.

Cerita tentang tangan yang bekerja, waktu yang habis di depan kanvas, dan rezeki yang datang dari hiruk pikuk dunia.

-000-

Wildan mengaku beberapa pekan terakhir nyaris tak berhenti menggoreskan kuas.

Pesanan terbanyak adalah wajah Messi, Ronaldo, hingga Mbappe.

Ia menyebut pesanan meningkat dibanding hari biasa.

Order datang bukan hanya dari Lamongan, tetapi juga dari berbagai daerah.

Walau Piala Dunia tidak digelar di Indonesia, dampaknya ia rasakan nyata.

Di titik ini, berita menjadi cermin.

Ia memantulkan bagaimana peristiwa global bisa menetes ke ruang tamu, studio kecil, dan dompet pelaku usaha kreatif.

Itu yang membuatnya relevan, lalu menjadi percakapan.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren

Pertama, ada energi kolektif bernama Piala Dunia.

Euforia empat tahunan ini menciptakan gelombang perhatian yang menular.

Ketika perhatian menumpuk, permintaan atas simbol ikut meningkat.

Wajah bintang menjadi simbol paling mudah dikenali.

Simbol itu lalu dicari untuk dipajang, dikoleksi, atau dijadikan hadiah.

-000-

Kedua, kisah ini menyentuh tema “rezeki dari arah tak terduga”.

Publik Indonesia akrab dengan narasi bertahan hidup.

Di situ, cerita Wildan terasa seperti kabar baik yang sederhana.

Ia bukan selebritas, bukan pemilik modal besar.

Ia pekerja kreatif yang memanen momentum lewat keterampilan.

-000-

Ketiga, ada daya tarik pada detail proses.

Wildan menjelaskan tahapan sketsa, komposisi warna, hingga ekspresi wajah agar “hidup”.

Ia menyebut ukuran 30 x 40 cm bisa selesai dua hari.

Ukuran 60 x 80 hingga 80 x 100 cm bisa memakan waktu satu minggu.

Detail semacam ini membuat cerita terasa nyata dan meyakinkan.

Di era serba instan, kerja yang pelan dan teliti justru memantik rasa hormat.

-000-

Ekonomi yang Bergerak dari Kanvas

Wildan mematok harga mulai Rp 500 ribu untuk ukuran standar.

Untuk ukuran besar dan detail tinggi, harganya hingga Rp 3,5 juta.

Angka itu terdengar sederhana, namun bermakna besar bagi banyak rumah tangga.

Terutama ketika pesanan datang beruntun.

-000-

Di balik angka, ada jam kerja yang tak terlihat.

Ada kesabaran menunggu cat kering.

Ada ketelitian mengulang garis yang meleset.

Ada keputusan artistik yang tak bisa diwakilkan mesin.

Di situlah nilai ekonominya tumbuh.

Bukan hanya dari bahan, tetapi dari keahlian dan waktu.

-000-

Wildan juga membawa latar yang menarik.

Ia pernah berkarier sebagai guru sekolah dasar di Ponorogo.

Perjalanan itu menambah lapisan makna.

Profesi bisa berubah, namun kebutuhan untuk berkarya dan bertahan tetap sama.

Kisahnya mengingatkan bahwa mobilitas kerja adalah kenyataan banyak warga.

-000-

Isu Besar yang Terkait: Ekonomi Kreatif, Identitas, dan Ketahanan

Kisah ini menempel pada isu besar Indonesia: ekonomi kreatif sebagai tumpuan.

Ketika lapangan kerja formal tak selalu cukup, keterampilan menjadi jangkar.

Event global memberi “pasar musiman”, tetapi dampaknya bisa nyata.

Jika dikelola, momentum bisa menjadi pola.

-000-

Isu berikutnya adalah identitas dan fandom.

Sepak bola bukan sekadar olahraga.

Ia adalah bahasa emosi, komunitas, dan rasa memiliki.

Ketika seseorang memesan lukisan Messi atau Ronaldo, ia membeli kedekatan simbolik.

Ia menaruh kenangan dalam bingkai.

-000-

Isu ketiga adalah ketahanan ekonomi rumah tangga.

Wildan menyebut kenaikan omzet dibanding biasanya.

Kalimat itu terdengar singkat, tetapi menyimpan realitas panjang.

Omzet yang naik berarti ada ruang bernapas.

Ada biaya sekolah, dapur, dan kebutuhan harian yang lebih aman.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Euforia Mengubah Belanja

Secara konseptual, kisah Wildan dapat dibaca lewat kacamata ekonomi pengalaman.

Orang tidak hanya membeli barang.

Mereka membeli pengalaman, memori, dan cerita.

Piala Dunia adalah pabrik pengalaman kolektif.

-000-

Dalam kajian perilaku konsumen, peristiwa besar sering memicu pembelian simbolik.

Simbol membantu orang menandai momen.

Jersey, poster, dan lukisan menjadi penanda identitas sekaligus arsip emosi.

Pada titik ini, seni bekerja sebagai “penyimpan ingatan”.

-000-

Ada juga konsep ekonomi perhatian.

Ketika perhatian publik tersedot pada Piala Dunia, produk yang terkait ikut terdorong.

Wildan berada di jalur arus perhatian itu.

Ia memanen permintaan tanpa harus menjadi bagian dari industri besar.

-000-

Di sisi lain, kisah ini menyinggung nilai kerja kreatif.

Proses sketsa, warna, dan detail ekspresi menunjukkan unsur keahlian.

Dalam studi kerja, keahlian yang terakumulasi bertahun-tahun menciptakan daya saing.

Keahlian itulah yang membuat produk tidak mudah digantikan.

-000-

Perbandingan Luar Negeri: Seni dan Olahraga yang Saling Menghidupi

Fenomena seniman yang ikut terdorong oleh event olahraga bukan hal asing di luar negeri.

Di banyak negara, turnamen besar sering melahirkan pasar karya bertema atlet.

Poster, mural, dan ilustrasi meledak saat publik mencari cara merayakan momen.

-000-

Di Inggris, misalnya, kultur sepak bola melahirkan tradisi karya visual di sekitar klub.

Di Argentina, figur bintang sepak bola kerap hadir dalam karya seni populer.

Di Amerika Serikat, event olahraga besar sering memicu ledakan memorabilia.

Ruangnya berbeda, tetapi logikanya serupa.

Ketika emosi publik memuncak, seni menjadi wadahnya.

-000-

Perbandingan ini penting bukan untuk menyamakan skala.

Melainkan untuk melihat pola.

Olahraga menciptakan narasi.

Seni menyimpan narasi itu agar bisa dibawa pulang.

Wildan berada dalam pola yang sama, dengan konteks lokal yang khas.

-000-

Kontemplasi: Antara Global dan Lokal

Ada ironi yang lembut dalam kisah ini.

Piala Dunia tidak berlangsung di Indonesia.

Namun Indonesia tetap ikut berdenyut.

Denyut itu bukan hanya di kafe atau ruang keluarga.

Ia juga berdenyut di studio kecil, pada kuas yang tak sempat diletakkan.

-000-

Di zaman ketika berita sering terasa bising, kisah Wildan terasa hening.

Ia tidak menawarkan sensasi.

Ia menawarkan kerja.

Dan kerja, ketika dituturkan dengan jujur, selalu punya daya menggugah.

Karena banyak orang hidup dari kerja yang tak terlihat.

-000-

Sepak bola, dalam cerita ini, menjadi jembatan.

Ia menghubungkan bintang dunia dengan warga biasa.

Ia menghubungkan stadion jauh dengan ekonomi rumah tangga.

Ia menghubungkan sorak penonton dengan sunyi seorang pelukis yang menuntaskan detail mata.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik bisa menanggapi dengan menghargai kerja kreatif secara wajar.

Jika membeli karya, pahami bahwa harga memuat waktu, keterampilan, dan proses.

Budaya menawar boleh ada, tetapi jangan menghapus martabat kerja.

-000-

Kedua, pelaku kreatif bisa melihat momentum sebagai pintu, bukan tujuan.

Piala Dunia akan berlalu.

Namun portofolio, jejaring pelanggan, dan reputasi bisa bertahan.

Menjaga kualitas, ketepatan waktu, dan komunikasi menjadi investasi paling nyata.

-000-

Ketiga, ruang publik lokal dapat memberi dukungan yang tidak menggurui.

Komunitas seni, ruang pamer, dan ekosistem kreatif bisa membantu memperluas akses pasar.

Dukungan paling berguna sering kali sederhana.

Misalnya membantu promosi organik, membuka ruang kolaborasi, atau mempertemukan dengan calon pembeli.

-000-

Keempat, kita perlu menjaga cara bercerita tentang “berkah”.

Jangan sampai kata itu menutupi kenyataan bahwa kerja kreatif juga rentan.

Order bisa ramai, lalu sepi.

Karena itu, percakapan publik sebaiknya ikut mendorong keberlanjutan.

Bukan hanya merayakan momen.

-000-

Penutup

Kisah Wildan Solihin menunjukkan bahwa peristiwa global bisa menetes menjadi peluang lokal.

Ia tidak mengubah Piala Dunia.

Namun Piala Dunia mengubah ritme harinya, setidaknya untuk sementara.

Dan dalam perubahan ritme itu, kita melihat sesuatu yang lebih besar.

-000-

Kita melihat Indonesia yang bekerja dalam diam.

Kita melihat ekonomi kreatif yang hidup dari keterampilan.

Kita melihat bagaimana sebuah wajah di kanvas dapat menjadi jembatan antara mimpi, identitas, dan kebutuhan sehari-hari.

Di tengah euforia, ada pelajaran tentang ketekunan.

-000-

Seperti kata yang sering diulang dalam berbagai bentuk, inspirasi tidak datang untuk menggantikan kerja.

Ia datang untuk menyalakan keberanian memulai.

“Ketekunan adalah cara paling sunyi untuk membuktikan harapan.”