BERITA TERKINI
Kontroversi AI dalam Lomba Sastra dan Seni: Tuntutan Keadilan dan Transparansi Makin Menguat

Kontroversi AI dalam Lomba Sastra dan Seni: Tuntutan Keadilan dan Transparansi Makin Menguat

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan karya sastra dan seni dalam kompetisi memunculkan perdebatan tentang batas etika, keadilan penilaian, serta kebutuhan transparansi. Di tengah semakin luasnya pemakaian teknologi dalam berbagai bidang, banyak kompetisi menulis kreatif di ranah sastra dan seni masih cenderung menutup pintu bagi karya yang dibuat dengan bantuan AI.

Sejumlah kompetisi, terutama lomba menulis, secara tegas menolak karya yang melibatkan AI. Di sisi lain, beberapa kompetisi musik dinilai lebih terbuka menerima intervensi AI, meski penerapannya disebut belum menghasilkan dampak yang jelas dan justru memunculkan kekhawatiran serta kontroversi.

Salah satu contoh datang dari kompetisi penulisan lagu yang mempromosikan Kongres Nasional ke-13 Serikat Pemuda periode 2026–2031. Panitia mengizinkan peserta menggunakan AI, namun dengan syarat peserta harus menyatakan secara jelas dan menjelaskan sejauh mana AI digunakan. Ketentuan ini sempat memicu perdebatan besar di kalangan ahli sejak kompetisi diluncurkan.

Dalam kontes penulisan lagu bertema “80 Tahun - Bangga dengan Staf Kepolisian Rakyat”, karya dengan intervensi AI diperbolehkan untuk dinilai secara terpisah. Namun, hanya satu penulis yang mengirimkan karya, sehingga panitia tidak memasukkannya ke proses penjurian. Karya-karya dari penulis tersebut—disebut berjumlah 80 entri—juga dinilai tidak berhasil karena terlalu bergantung pada AI, menghasilkan lirik dan melodi yang terbatas, serta beberapa dinilai tidak sesuai tema.

Letnan Kolonel Luu Xuan Dong, Wakil Kepala Departemen Kebudayaan dan Seni, Biro Urusan Politik, Kementerian Keamanan Publik, sekaligus anggota panitia penyelenggara kontes tersebut, menyatakan bahwa musik dan teknologi selalu berjalan beriringan. Menurutnya, penerapan AI dapat membantu penulis mewujudkan ide-ide baru dan unik, menarik perhatian publik, menciptakan dampak luas, serta mendukung kebutuhan propaganda secara efektif.

Ia juga menyebut banyak kompetisi domestik dan internasional mulai menerima karya dengan intervensi AI. Namun, ia menekankan bahwa jika AI hanya dipakai untuk produksi massal tanpa keterlibatan orang yang memiliki pengetahuan musik, maka karya akan sulit meyakinkan juri maupun pendengar.

Sejalan dengan itu, Letnan Kolonel sekaligus musisi An Hieu, Wakil Kepala Departemen Manajemen Kebudayaan di Universitas Kebudayaan dan Seni Militer, menilai penerapan AI dalam kegiatan seni merupakan tren global yang tidak bisa diabaikan. Ia mengakui produk berbasis AI dapat dibuat lebih cepat, bahkan ada yang dinilai efektif dan inovatif serta mudah menyebar luas. Meski demikian, ia mengingatkan seniman perlu menguasai teknologi dan tidak bergantung pada AI.

An Hieu menambahkan, para musisi sebaiknya tidak mengambil mentah-mentah seluruh hasil AI, melainkan memanfaatkannya sebatas saran atau referensi. Dalam proses berkarya, seniman dinilai perlu menggunakan bahasa mereka sendiri, terutama bahasa Vietnam, agar publik tetap merasakan identitas karya Vietnam dengan cita rasa dan kepribadian penciptanya.

Namun, An Hieu menyatakan pengiriman produk hasil AI ke kompetisi sastra dan seni merupakan tindakan yang tidak dapat diterima. Ia menyoroti adanya kasus ketika seseorang memasukkan puisi ke AI untuk dibuat menjadi lagu lalu mengklaim kepemilikan. Menurutnya, pihak yang memiliki keahlian profesional dapat mengenali produk semacam itu.

Ia juga menilai dalam musik, salah satu perbedaan yang paling mudah terlihat adalah karakter bahasa Vietnam yang bertonal, sementara produk AI kerap memaksakan lirik ke not sehingga terdengar janggal. Produk AI yang dibuat secara massal juga dinilai rentan mengulang pola, meski dapat meniru gaya artis tertentu.

Penolakan lebih keras disampaikan Letnan Kolonel dan penulis Le Thi Thanh Binh (Nhu Binh), Kepala Departemen Topik Khusus Surat Kabar Kepolisian Rakyat serta juri kompetisi penulisan cerpen “Peluang Baru”. Ia berpendapat AI seharusnya hanya menjadi alat pendukung pekerjaan, misalnya membantu koreksi ejaan, merapikan dokumen, memproses berita dengan cepat, atau membantu penulisan konten komunikasi.

Menurut Nhu Binh, penggunaan AI dalam penciptaan sastra dan seni perlu dipertimbangkan ulang. Jika tetap digunakan, persentase kontribusi AI dan manusia harus transparan dan diumumkan kepada publik. Ia menegaskan secara pribadi tidak dapat menerima penulisan dengan AI karena menyangkut etika dan kehormatan dalam penciptaan seni.

Dalam hal deteksi, Nhu Binh menyebut pengalaman hampir 20 tahun sebagai sekretaris redaksi yang menangani banyak manuskrip membantunya membedakan tulisan manusia dan tulisan AI. Ia menilai karya manusia memiliki identitas yang unik, sementara manuskrip AI cenderung tampak mirip setelah membaca banyak contoh, baik dari struktur kalimat maupun cara memecahkan masalah.

Ia juga mengungkapkan bahwa untuk kompetisi cerpen “Peluang Baru”, selain mengandalkan pengalaman juri, panitia memanfaatkan dukungan teknologi modern untuk meninjau karya yang diduga menggunakan AI. Panitia disebut bekerja sama dengan lembaga penelitian dan menggunakan berbagai teknologi secara bersamaan untuk melakukan pemeriksaan silang terhadap karya yang masuk.

Perdebatan mengenai AI dalam kompetisi sastra dan seni kini mengarah pada satu benang merah: kebutuhan aturan yang jelas, penerapan yang adil, serta transparansi informasi agar proses penilaian tetap dipercaya dan martabat karya kreatif tetap terjaga.