Mata Air Benoyo di Salatiga mendadak ramai dibicarakan, bukan karena sensasi, melainkan karena kecemasan yang pelan-pelan menjadi nyata.
Debitnya menipis akibat pendangkalan dari tahun ke tahun, sementara ia telah lama menjadi sumber kehidupan bagi warga Kutowinangun Lor dan sekitarnya.
Di tengah kabar itu, sebuah pentas seni digelar pada Kamis malam, 23 Juli 2026.
Kawasan yang biasanya sunyi karena berdekatan dengan TPU, berubah riuh.
Kerumunan datang ke tepi kolam, menonton panggung, dan mendengar pesan yang tidak selalu mudah diucapkan dalam forum formal.
Di titik inilah isu Benoyo menjadi tren: ia memadukan rasa kehilangan, ruang publik, dan cara baru berkampanye yang terasa dekat.
-000-
Isu yang Menggerakkan: Air yang Menyusut, Kehidupan yang Menggantung
Mata air adalah infrastruktur paling tua yang dimiliki sebuah kota.
Ia bekerja tanpa pita peresmian, tanpa papan proyek, dan sering tanpa perhatian, sampai suatu hari alirannya melemah.
Benoyo mengalir sampai daerah Pabelan di Kabupaten Semarang.
Kalimat itu sederhana, tetapi memuat peringatan yang besar: satu sumber melemah, dampaknya menjalar melampaui batas administrasi.
Ketika debit terus turun, kekeringan di satu titik dapat terasa di titik lain.
Ketua panitia Aluntirtana, Gabriel Jordan Renaldian, menyebut penyelamatan harus berkelanjutan dan menyeluruh.
Ia menekankan ancaman polusi dan sampah yang mengintai setiap saat.
Di Benoyo, perubahan juga terasa secara fisik.
Dulu orang bisa melompat ke kolam tanpa khawatir.
Kini, jika tidak berhati-hati saat melompat, orang bisa terbentur batu di dasar kolam.
Kesaksian seperti ini membuat penurunan debit tidak lagi abstrak.
Ia menjadi pengalaman tubuh, menjadi cerita yang bisa dibagikan, dan menjadi alasan mengapa orang menoleh.
-000-
Mengapa Benoyo Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Membuatnya Melekat
Pertama, isu air menyentuh kebutuhan paling dasar.
Ketika sumber kehidupan menipis, orang merasakan ancaman yang melampaui perbedaan pandangan, kelas sosial, atau preferensi politik.
Air memaksa kita jujur tentang ketergantungan.
Ia tidak bisa digantikan oleh retorika.
Kedua, kampanye dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Aluntirtana menghadirkan drum blek NGK, tari kontemporer, dan grup Sahita dari Solo yang beranggotakan empat nenek.
Gerak tari, nyanyian, dan komedi membuat pesan lingkungan tidak terasa menggurui.
Ia menjadi ajakan yang hangat, bukan perintah yang dingin.
Ketiga, lokasinya sarat simbol.
Pentas digelar di kawasan yang biasanya sunyi, berdampingan dengan pemakaman.
Di sana, orang diingatkan bahwa air adalah soal hidup, tetapi juga soal warisan.
Jika mata air hilang, yang tersisa bukan hanya kekurangan, melainkan juga penyesalan kolektif.
-000-
Aluntirtana: Ketika Seni Mengambil Peran yang Sering Gagal Dilakukan Poster
Acara bertajuk Aluntirtana digagas mahasiswa Ilmu Komunikasi Fiskom UKSW Salatiga.
Yang mereka lakukan bukan sekadar hiburan.
Mereka membangun ruang perjumpaan, tempat warga bisa datang tanpa merasa sedang diuji pengetahuan lingkungannya.
Di sela acara, ada kungkum di kolam Benoyo.
Ritual sederhana itu mengembalikan relasi manusia dengan air sebagai pengalaman, bukan hanya angka debit dalam laporan.
Jordan mengajak langkah penyelamatan dimulai dari sekitar.
Menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mulai menanam pohon.
Bahasa yang dipilihnya sengaja membumi.
Karena krisis lingkungan sering gagal ditangani bukan karena kurangnya istilah ilmiah, melainkan karena kurangnya kebiasaan yang dijaga bersama.
Seorang pengunjung, Wisnu, menyebut acara semacam ini jarang diadakan di Benoyo.
Ia mengapresiasi bahwa hiburan dibingkai dengan tujuan yang lebih mulia.
Testimoni itu penting, karena memperlihatkan bahwa kampanye lingkungan bisa diterima tanpa harus menunggu bencana.
-000-
Nama-Nama “Kali” dan Ingatan Kota: Air sebagai Identitas Salatiga
Jordan mengingatkan bahwa di Salatiga banyak daerah memakai awalan “Kali” yang berarti sungai.
Kalicacing, Kalimangkak, Kalinongko, Kalibening, dan banyak lainnya.
Penamaan itu adalah penanda sumber air.
Ia seperti arsip yang hidup, tertanam dalam peta dan percakapan sehari-hari.
Ketika mata air menipis, yang terancam bukan hanya pasokan.
Yang ikut tergerus adalah identitas ruang, cara kota mengenali dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, penyelamatan Benoyo bukan nostalgia.
Ia adalah upaya mempertahankan ingatan ekologis yang membuat sebuah tempat lebih dari sekadar koordinat.
-000-
Mengaitkan Benoyo dengan Isu Besar Indonesia: Ketahanan Air dan Tata Kelola Lingkungan
Kisah Benoyo berbicara tentang ketahanan air.
Indonesia kerap membicarakan ketahanan pangan dan energi, tetapi air adalah fondasi yang mendahului keduanya.
Ketika satu mata air melemah, tekanan berpindah ke sumber lain.
Warga akan mencari alternatif, dan persaingan atas sumber yang tersisa bisa meningkat.
Benoyo juga menunjukkan pentingnya tata kelola lingkungan yang konsisten.
Jordan menekankan ancaman polusi dan sampah yang mengintai setiap saat.
Itu mengingatkan bahwa krisis tidak selalu datang sebagai peristiwa besar.
Sering kali ia menumpuk dari hal kecil yang dibiarkan menjadi kebiasaan.
Dalam skala nasional, kebiasaan itu terhubung dengan budaya buang sampah, lemahnya pengawasan, dan minimnya perawatan ekosistem sumber air.
Benoyo menjadi cermin: masalahnya lokal, tetapi polanya mudah ditemukan di banyak tempat di Indonesia.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Pendekatan Komunitas dan Perubahan Perilaku Penting
Riset komunikasi lingkungan menunjukkan pesan lebih efektif ketika dekat dengan keseharian audiens.
Karena itu, memilih seni sebagai medium dapat memperluas jangkauan orang yang biasanya alergi pada kampanye.
Dalam studi perubahan perilaku, kebiasaan baru lebih mudah tumbuh jika didukung norma sosial.
Acara publik menciptakan norma itu, karena orang melihat orang lain peduli.
Di Benoyo, pesan menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan diletakkan dalam suasana bersama.
Ia tidak berdiri sebagai larangan, tetapi sebagai kesepakatan yang dirayakan.
Riset tentang pengelolaan sumber daya bersama juga menekankan pentingnya kepercayaan dan partisipasi.
Mata air adalah contoh klasik sumber daya yang dipakai banyak orang.
Jika tidak ada rasa memiliki, semua orang cenderung mengambil manfaat, tetapi enggan menanggung biaya perawatan.
Aluntirtana bekerja pada sisi yang sering dilupakan: membangun rasa memiliki itu.
-000-
Referensi Luar Negeri yang Menyerupai: Ketika Warga Mengubah Kecemasan Menjadi Aksi
Di berbagai negara, kampanye lingkungan sering berhasil ketika memadukan budaya lokal dengan pesan konservasi.
Gerakan restorasi sungai di sejumlah kota Eropa, misalnya, kerap menggunakan festival warga untuk menghidupkan kembali hubungan dengan air.
Di Amerika Serikat, komunitas di beberapa daerah menggelar acara edukasi publik di bantaran sungai.
Tujuannya serupa: membuat isu ekologis terasa personal, bukan sekadar urusan lembaga.
Kesamaannya dengan Benoyo terletak pada metode.
Ketika data lingkungan sulit dicerna, seni, perayaan, dan pengalaman langsung sering menjadi pintu masuk yang lebih manusiawi.
Namun inti pesannya sama: sumber air tidak bisa menunggu sampai semuanya rusak.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi: Dari Euforia Tren ke Kerja yang Tekun
Pertama, jaga fokus pada tindakan harian yang disebut Jordan.
Tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan menanam pohon adalah langkah kecil yang masuk akal untuk dikerjakan banyak orang.
Kedua, rawat konsistensi kampanye.
Jordan menekankan penyelamatan harus berkelanjutan dan menyeluruh.
Artinya, acara seni perlu diikuti kegiatan rutin yang menjaga perhatian publik tetap menyala.
Ketiga, perluas kolaborasi.
Karena Benoyo mengalir sampai Pabelan, percakapan lintas wilayah menjadi penting.
Air tidak mengenal batas administrasi, sehingga kepedulian juga seharusnya melampaui batas itu.
Keempat, perkuat literasi lingkungan yang tidak menghakimi.
Aluntirtana menunjukkan bahwa orang mau mendengar ketika diajak dengan gembira.
Model ini dapat direplikasi di titik lain, dengan bahasa lokal dan seni yang akrab.
-000-
Penutup: Air, Seni, dan Kesadaran yang Tidak Boleh Musiman
Benoyo mengajarkan bahwa krisis lingkungan sering datang sebagai penipisan, bukan ledakan.
Ia merosot perlahan, sampai suatu hari semua orang terkejut karena terlambat memperhatikan.
Di Salatiga, mahasiswa memilih cara yang tidak biasa untuk mengetuk kesadaran.
Mereka menyalakan panggung di tepi kolam, mengubah sunyi menjadi percakapan.
Tren di mesin pencari bisa cepat berlalu.
Tetapi kerja merawat mata air harus lebih panjang dari siklus perhatian publik.
Jika Benoyo adalah sumber kehidupan, maka menjaganya adalah cara paling sederhana untuk menghormati hidup itu sendiri.
Dan mungkin, dari tepi kolam yang menipis, kita belajar bahwa harapan sering lahir dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.
“Perubahan besar kerap dimulai dari kesediaan menjaga yang paling dekat.”