Sejumlah film, serial, hingga musik yang mengangkat isu kesehatan mental belakangan mendapat perhatian besar. Fenomena ini dinilai menjadi indikator sekaligus pendorong meningkatnya kesadaran publik terhadap persoalan kesehatan mental, terutama di level wacana.
Salah satu contoh yang disorot adalah film Kukira Kau Rumah (KKR) yang mengangkat cerita pengidap bipolar disorder. Film tersebut disebut mencatat penjualan tinggi, dengan angka penonton yang dilaporkan telah melampaui 2 juta pada minggu kedua penayangan berdasarkan unggahan di Instagram produsernya, Prilly Latuconsina. Sebelumnya, film Joker juga ramai diperbincangkan secara global karena membawa isu kesehatan mental ke ruang publik.
Dari ranah serial, Hometown Cha Cha Cha disebut sempat bertahan berminggu-minggu di daftar Top 10 Netflix Indonesia. Serial itu dinilai mampu menggambarkan kompleksitas masalah mental karakter-karakternya, sehingga banyak penonton merasa relevan dengan ceritanya.
Di media sosial, topik kesehatan mental juga semakin sering muncul. Kosakata seperti mental illness, bipolar, trust issue, healing, self love, trigger, burn out, support system, manic, depresi, OCD, dan anxiety kerap digunakan dan diperbincangkan di berbagai platform. Konten bertema kesehatan mental di YouTube pun beragam, mulai dari materi yang dibuat pakar seperti psikolog dan psikiater, pengalaman penyintas, hingga kompilasi video pendek dari media sosial.
Dalam musik, sejumlah penyanyi seperti Yura Yunita, Nadin Amizah, Idgitaf, dan Budi Doremi disebut menghadirkan lirik yang empatik terhadap pergulatan batin, dan mendapat sambutan di berbagai platform streaming. Lirik-lirik tersebut menggambarkan bahwa kegelisahan tidak selalu terkait persoalan cinta, tetapi juga gejolak dalam diri.
Meningkatnya perhatian terhadap isu ini dinilai membawa dampak positif: semakin banyak orang berani berbicara tentang kondisi mental yang dialami, termasuk gangguan yang berat. Respons warganet disebut relatif empatik, meski tetap ada komentar yang menyimpang.
Namun, di tengah tren tersebut, muncul kekhawatiran mengenai sejumlah ekses. Di antaranya adalah romantisasi gangguan mental, kecenderungan melakukan self-diagnose, legitimasi perilaku hedonistik, serta melemahnya daya juang.
Romantisasi gangguan mental
Romantisasi gangguan mental merujuk pada kecenderungan menggambarkan gangguan mental sebagai sesuatu yang estetik, atraktif, glamor, atau kekinian. Padahal, kondisi seperti depresi, bipolar, anxiety, dan OCD disebut sebagai pengalaman yang tidak nyaman dan menyiksa bagi penderitanya.
Tren ini dikaitkan dengan meningkatnya perhatian setelah isu kesehatan mental banyak muncul di karya-karya populer seperti film. Selain itu, pengakuan dari tokoh publik, influencer, atau selebriti yang tetap terlihat “keren” saat berbagi pengalaman juga dinilai dapat membuat publik mengabaikan sisi berat dari gangguan mental, termasuk proses penanganan seperti konsultasi ke psikiater atau terapi yang membutuhkan biaya.
Kecenderungan self-diagnose
Melimpahnya informasi mengenai gejala gangguan mental juga memunculkan kecenderungan sebagian orang mendiagnosis dirinya sendiri. Dalam narasi yang berkembang, kondisi seperti jenuh bekerja bisa langsung dilabeli depresi, perubahan suasana hati dianggap bipolar, atau kebiasaan tertentu disimpulkan sebagai OCD.
Padahal, diagnosis gangguan mental disebut perlu ditegakkan oleh ahli seperti psikolog atau psikiater melalui rangkaian pemeriksaan, tes, dan anamnesis, serta memenuhi parameter tertentu dalam jangka waktu tertentu. Kekhawatiran yang muncul, self-diagnose dapat menjadi sugesti yang memperburuk kondisi atau mendorong penggunaan obat dan terapi yang tidak diperlukan.
Legitimasi perilaku hedonistik
Ekses lain yang disorot adalah kecenderungan perilaku hedonistik yang dianggap menemukan momentumnya saat isu kesehatan mental menguat. Atas nama self love, self care, self reward, me time, atau healing, sebagian orang dinilai lebih mudah memutuskan untuk bersenang-senang, seperti liburan atau nongkrong, meski tidak selalu dalam kondisi yang memungkinkan.
Dalam pandangan ini, self love dipahami seharusnya tidak semata-mata identik dengan kesenangan instan, melainkan disiplin dan kesabaran berproses, menikmati capaian kecil setelah melewati hambatan, serta menghargai diri setelah melalui perjalanan panjang.
Melemahnya daya juang
Sejalan dengan itu, muncul pula kekhawatiran melemahnya daya juang. Berbagai kesulitan dinilai lebih mudah dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kesehatan mental. Contoh yang disebut adalah anggapan bahwa tugas kuliah mengganggu kesehatan mental sehingga memicu keinginan untuk cuti dan bepergian sebagai bentuk healing.
Kesadaran kesehatan mental, dalam narasi ini, seharusnya digunakan untuk mengoptimalkan daya juang pada bidang yang disukai dan melepaskan hal-hal yang benar-benar menyiksa, bukan untuk mudah menyerah pada tantangan hidup.
Di tengah meningkatnya kesadaran publik, kekhawatiran tersebut mengarah pada satu pesan: tren kesehatan mental dinilai perlu dijaga agar tidak bergeser menjadi pembenaran perilaku yang kontraproduktif. Harapannya, perhatian pada kesehatan mental dapat mendorong masyarakat menjadi lebih empatik sekaligus lebih tangguh.