Bayi yang sedang tumbuh gigi umumnya menjadi lebih rewel, banyak mengeluarkan air liur, dan gemar menggigit benda di sekitarnya. Kondisi ini kerap membuat orang tua mencari cara untuk mengurangi ketidaknyamanan, salah satunya dengan memakaikan kalung amber yang diyakini dapat meredakan nyeri saat gigi mulai muncul.
Kalung amber dijual di pusat perbelanjaan maupun situs belanja online, dengan harga sekitar Rp 190 ribuan. Sejumlah selebriti juga terlihat memakaikan kalung tersebut kepada bayi mereka yang sedang memasuki fase tumbuh gigi. Salah satunya, Chelsea Olivia yang pada 12 September menuliskan bahwa kalung amber dipercaya dapat mengurangi efek nyeri, dan ia memakaikannya kepada putrinya, Nastusha, saat mulai tumbuh gigi.
Amber disebut berasal dari fosil getah pohon Pinus succinifera yang terbentuk sekitar 40 juta tahun lalu. Fosil ini disebut mengandung asam suksinat yang diklaim dapat mengurangi peradangan. Salah satu penjual aksesori amber, Baltik Wonder, menyatakan hanya amber dari wilayah Baltik yang memiliki kadar asam suksinat tinggi, yang disebut berfungsi sebagai pereda peradangan alami, pereda nyeri, dan penguat sistem kekebalan tubuh. Dalam klaim tersebut, panas tubuh bayi disebut memicu pelepasan asam suksinat yang kemudian diserap melalui kulit sehingga membantu mengurangi ketidaknyamanan saat tumbuh gigi.
Namun, klaim itu diragukan oleh Armasastra Bahar, guru besar Ilmu Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejak ratusan tahun lalu masyarakat Eropa meyakini amber bermanfaat untuk membantu menyembuhkan luka dan meningkatkan daya tahan tubuh. Meski demikian, menurut Armasastra, asam suksinat pada amber baru keluar melalui pemanasan pada suhu sekitar 180 derajat Celsius.
Ia menilai suhu tersebut tidak mungkin tercapai dalam pemakaian sehari-hari. Suhu tubuh bayi, kata dia, sekitar 36 derajat Celsius dan hanya sedikit meningkat saat demam. “Tapi masih terlalu jauh untuk bisa mengeluarkan asam suksinatnya,” ujarnya. Ia juga menambahkan belum ada penelitian yang membuktikan pemakaian amber dapat meredakan nyeri tumbuh gigi.
Guru besar Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Melanie Sadono Djamil, juga mengingatkan bahwa sekalipun kandungan amber dapat keluar, hal itu belum tentu baik bagi tubuh. Menurut Melanie, asam suksinat merupakan bahan kimia yang jika digunakan terus-menerus dikhawatirkan dapat menumpuk dalam tubuh. “Kalau berlebihan, bisa mengalami gangguan di ginjal dan liver,” ujarnya. Selain itu, ia mengingatkan penggunaan kalung—terutama saat bayi tidur—dikhawatirkan menimbulkan risiko tercekik.
Melanie menjelaskan, rewel saat tumbuh gigi merupakan hal yang lumrah karena gigi mendesak dan merobek gusi. Kondisi gusi yang “sobek” membuat anak menjadi uring-uringan, susah makan, dan sering menggigit apa pun. Rekahan pada gusi juga merangsang produksi air liur sehingga bayi menjadi lebih sering “ileran”.
Armasastra menekankan bahwa hal terpenting pada masa tumbuh gigi adalah menjaga kebersihan mulut anak. Ia mengingatkan agar anak tidak dibiarkan tidur dengan susu yang masih menggenang di mulut karena susu mudah berubah menjadi asam dan memicu pertumbuhan bakteri. Penumpukan bakteri saat gusi merekah dapat menimbulkan infeksi dan peradangan, yang akhirnya membuat anak makin tidak nyaman. Infeksi juga bisa dipicu kebiasaan menggigit sembarang benda. “Akhirnya rewelnya jadi makin lama,” tuturnya.
Melanie menambahkan, air liur yang berlebihan justru merupakan mekanisme alamiah untuk melindungi bayi. “Air liur menyapu kuman keluar,” katanya. Karena itu, alih-alih mengandalkan kalung amber, kedua guru besar tersebut menyarankan orang tua fokus menjaga kebersihan mulut anak sejak lahir. Salah satu caranya, setiap selesai menyusu, rongga mulut bayi diseka dengan kain kasa yang dibasahi air hangat. “Kalau mulutnya bersih, enggak usah pakai batu pun rasa sakitnya hilang dengan cepat,” ujar Armasastra.
Melanie juga menyebut penggunaan teether dapat merangsang pertumbuhan gigi melalui gesekan yang membantu pembukaan gusi serta merangsang otot di sekitar rahang. Ia menilai rewel saat tumbuh gigi juga bisa ditekan dengan memperbanyak pemberian air susu ibu sesuai fungsinya dalam membangun daya tahan anak. Dengan takaran cukup, tubuh anak dapat melawan infeksi sehingga luka di gusi lebih cepat sembuh.
Menurut Melanie, mengandalkan kalung juga berisiko membuat orang tua mengabaikan penyebab lain dari keluhan anak. Ia mengingatkan bahwa ketidaknyamanan saat tumbuh gigi tidak selalu berasal dari rongga mulut, dan bisa saja dipicu kondisi lain seperti diare.