Firli Khoirul (28) memutuskan bekerja serabutan di Australia setelah merasa tidak memiliki bakat menjadi guru usai menyelesaikan kuliah. Ia berangkat pada 2023 setelah memenuhi syarat Working Holiday Visa (WHV) dan menjalani berbagai pekerjaan di sektor pertanian dan peternakan. Namun, pengalaman yang ia jalani tidak selalu berjalan mulus seperti yang kerap terlihat di media sosial.
Setibanya di Australia, Firli langsung mendapat pekerjaan di sebuah perkebunan apel. Meski pekerjaannya tergolong sederhana, ia mengaku hanya bertahan dua hari sebelum dirinya dan rekan-rekan kerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut Firli, mereka dinilai tidak memenuhi target dan bekerja terlalu lambat.
“Kami nggak memenuhi target kerja dan dinilai lelet. Untungnya, kami mendapatkan pekerjaan baru seminggu setelahnya,” kata Firli, yang menyebut proses perjuangannya memperoleh WHV dimulai sejak Mei 2023.
Di pekerjaan berikutnya, Firli masih berada di lingkungan perkebunan. Ia bertugas melakukan penjarangan buah apel, yakni memisahkan buah yang bergerombol hingga tersisa dua sampai tiga buah agar pohon dapat tumbuh maksimal. Setelah sekitar satu bulan, pekerjaan itu selesai seiring berakhirnya sesi penjarangan, dan Firli kembali harus mencari pekerjaan lain.
Pada akhir Januari 2024, ia mendapatkan tawaran kerja sebagai pack runner di perusahaan tomat dan timun. Tugasnya mengangkat serta memindahkan boks yang telah dikemas oleh packer. Namun, tantangan berikutnya muncul ketika musim panas berakhir.
Firli mengatakan, memasuki musim dingin, mencari pekerjaan di sektor perkebunan menjadi lebih sulit karena jumlah tanaman yang tumbuh maksimal tidak sebanyak musim panas. Dampaknya, jam kerja berkurang.
“Alhasil, jam kerjaku cuma 3-4 hari dalam seminggu. Tentu saja itu juga memengaruhi penghasilanku setiap minggu,” ujar Firli.
Firli kemudian kembali berpindah pekerjaan setelah mendapat bantuan dari teman yang bekerja di peternakan ayam. Karena memiliki lisensi mengemudi, Firli direkomendasikan kepada atasan temannya. Di sana, ia menjalani pekerjaan mengambil telur setiap hari dari ujung ke ujung kandang (shed) sejak pagi hingga menjelang sore.
Ia mengaku pekerjaan tersebut terasa membosankan dan monoton. Firli akhirnya mengundurkan diri dan beralih menjadi pemerah susu di tempat lain. Di pekerjaan ini, ia dipercaya menjadi team leader. Namun, setelah lima bulan, Firli memutuskan berhenti karena merasa kondisi mentalnya memburuk.
“Kerjaku memang 7 hari dalam 2 minggu di Australia, tapi aku merasa mentalku udah nggak sehat. Berat badanku turun kurang lebih 7 kilogram, wajahku berubah seperti tidak ada energi untuk menjalani hidup,” jelas Firli.
Ia menegaskan, dirinya bukan tipe orang yang mudah menyerah ketika menghadapi masalah. “Padahal, aku bukan tipe orang yang mudah menyerah saat ada masalah. Justru, saat ada tekanan aku malah tertantang dengan hal-hal baru yang belum pernah kulakukan sebelumnya,” tuturnya.
Setelah sekitar tiga tahun pontang-panting mencari kerja selama menjalani WHV, Firli mengaku “kena mental” dan akhirnya pulang ke Indonesia. Keputusan itu, menurutnya, menguat setelah mendapat “pengakuan” dari ibunya melalui telepon.