Sejumlah film dan serial mengangkat isu pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk kampus. Cerita-cerita ini menyoroti bagaimana korban kerap menghadapi tekanan sosial, ancaman terhadap masa depan akademik, hingga respons institusi yang tidak selalu berpihak pada korban.
Salah satu yang banyak dibicarakan adalah film Penyalin Cahaya (2021) garapan Wregas Bhanuteja. Film ini mengikuti kisah Sur, mahasiswi aktif di organisasi teater. Setelah menghadiri perayaan kemenangan kelompoknya, Sur minum alkohol hingga tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, foto-foto dirinya dalam kondisi mabuk beredar, yang berujung pada pencabutan beasiswa dan tudingan mencoreng nama kampus.
Isu serupa juga muncul dalam Dear Nathan: Thank You Salma (2022), sekuel yang melanjutkan kisah Nathan dan Salma yang sudah berkuliah. Dalam cerita, teman kampus mereka, Zanna, menjadi korban pelecehan seksual oleh temannya sendiri. Namun pelaku disebut memiliki dukungan kekuasaan dari ayahnya yang merupakan pejabat kampus, membuat korban takut melapor dan mendapat ancaman beasiswanya dicabut jika bersuara. Film ini dibintangi Jefri Nichol dan Amanda Rawles, serta disebut dapat ditonton di Vidio.
Dari format film pendek, Demi Nama Baik Kampus (2021) merupakan proyek yang digarap Kemendikbudristek bekerja sama dengan Aco Tenri. Film ini bercerita tentang Sinta, mahasiswi yang sedang menyusun skripsi. Dalam proses bimbingan, ia mengalami pelecehan seksual oleh dosen pembimbingnya. Sinta berupaya melapor, tetapi laporannya tidak dipercaya dan kampus justru berada di pihak dosen. Kasus kemudian cenderung ditutup-tutupi demi reputasi institusi.
Dari luar negeri, dokumenter The Hunting Ground (2015) merangkum banyak kasus nyata pelecehan dan kekerasan seksual di kampus-kampus Amerika Serikat. Dokumenter ini tidak berfokus pada satu tokoh, namun menyoroti sejumlah korban, termasuk Annie Clark dan Andrea Pino. Mereka digambarkan berharap kampus membantu, tetapi respons yang diterima tidak sesuai harapan.
Isu pelecehan seksual juga hadir dalam serial Dear White People (2017) yang berlatar di kampus elit fiktif Winchester University. Serial ini awalnya menonjolkan konflik rasisme, identitas, dan ketimpangan sosial, namun seiring musim berjalan, cerita berkembang ke arah yang lebih gelap dengan menyinggung pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus dari sudut pandang mahasiswi kulit hitam.
Sementara itu, serial Veronica Mars (2004–2007) menampilkan alur ketika tokoh utama berkuliah di Hearst College. Pada musim tersebut, muncul kasus besar berupa serangkaian pemerkosaan di lingkungan kampus, termasuk di area yang seharusnya aman seperti asrama. Veronica, yang digambarkan sebagai detektif amatir, menyelidiki kasus-kasus itu karena ketika ada mahasiswi mencoba bersuara, pihak kampus hingga aparat disebut tidak begitu mempercayainya.
Selain latar kampus, serial Thailand Girl from Nowhere (2018) mendapat perhatian karena beberapa episodenya menampilkan pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan sekolah menengah. Tokoh utama, Nanno, digambarkan sebagai siswi pindahan misterius yang menghukum orang-orang dengan moral yang rusak; setiap tindakan pelecehan atau kekerasan seksual dalam cerita disebut berujung pada ganjaran setimpal bagi pelaku.
Beragam judul tersebut, baik fiksi maupun dokumenter, sama-sama mengingatkan bahwa kekerasan seksual dapat terjadi bahkan di ruang pendidikan yang kerap dianggap aman. Narasi yang dihadirkan juga menyoroti tantangan korban ketika mencoba mencari keadilan dan perlindungan di lingkungan institusi.