Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sleman tampak antusias saat menyanyikan tembang Jawa dengan iringan musik gamelan dalam Festival Langen Carita. Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman itu berlangsung di Gedung Kesenian Sleman, Senin (26/5).
Kasi Pengembangan Seni Kundha Kabudayan Sleman, Arif Bowo Laksono, mengatakan Festival Langen Carita menampilkan 17 kelompok usia SD yang merupakan perwakilan dari seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menjadi ajang kompetisi terbuka untuk mengasah potensi dan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, agar peduli terhadap seni dan budaya.
Arif menilai peserta menunjukkan semangat tinggi dan terlihat akrab dengan aransemen gamelan serta tembang-tembang Jawa. Menurutnya, meski tidak semua anak kelak menjadi seniman, pengalaman tampil dapat menumbuhkan apresiasi dan rasa hormat terhadap seni budaya daerah.
Festival tersebut mengusung tema “Anak Indonesia”. Arif menyebut setiap kelompok diberi ruang untuk berkreasi, mengeksplorasi ide, dan mengangkat tema kehidupan sehari-hari yang dikemas dalam pertunjukan berbentuk kisah, ikon, serta properti pendukung. Ia berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi generasi penerus untuk terus nguri-nguri atau melestarikan kebudayaan Jawa.
Praktisi Seni Taman Siswa Jogjakarta, Yuli Miroto, yang juga menjadi juri, menilai Langen Carita dapat menjadi alternatif di tengah kecenderungan anak-anak masa kini yang banyak terpapar teknologi informasi. Melalui festival ini, anak-anak diajak kembali mengenal kebudayaan di lingkungan setempat.
Menurut Yuli, kegiatan tersebut tidak sekadar menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga memuat nilai edukasi yang dapat membentuk karakter positif. Ia menyebut proses belajar dalam kelompok mendorong tumbuhnya sikap saling menghargai, percaya diri, dan gotong royong.
Yuli juga menempatkan Langen Carita sebagai bagian dari dolanan anak yang dapat menjadi sarana belajar sejarah, mengasah kepekaan rasa, sekaligus memperkuat karakter. Ia berpandangan unsur seni dan kebudayaan dapat memberi dampak positif bagi anak-anak yang mengikutinya.
Dalam festival ini, setiap kapanewon mendapatkan jatah peserta minimal 25 orang. Dari 17 kelompok yang tampil, panitia akan memilih enam pemenang yang berhak atas trofi, piagam, dan uang pembinaan. Budayawan Tari Kreasi, Darto, yang turut menjadi juri, menjelaskan aspek penilaian meliputi kreativitas pengembangan dan inovasi, kesesuaian tema dengan penyajian secara utuh, serta materi penokohan dan penyutradaraan.
Pertunjukan tersebut mendapat respons positif dari pendamping dan orang tua peserta. Pendamping kelompok dari Berbah, Wiji Lestari Handayani, menyebut kegiatan ini diharapkan dapat membantu mengarahkan emosi anak dan mengantisipasi penyimpangan. Ia menambahkan, proses latihan dilakukan sekitar satu bulan sebelumnya dan menjadi pengalaman baru bagi sebagian anak.