BERITA TERKINI
Esai 38 Penulis Bahas Spiritualitas Berbasis Sains dalam Buku Denny JA

Esai 38 Penulis Bahas Spiritualitas Berbasis Sains dalam Buku Denny JA

Pandemi Covid-19 tidak hanya mengubah tatanan sosial dan mengguncang perekonomian, tetapi juga memicu perdebatan panjang di Indonesia mengenai relasi sains, agama, dan filsafat. Di tengah situasi krisis, muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang peran agama ketika bencana terjadi, sekaligus kritik terhadap keyakinan berlebihan pada kemampuan sains yang juga memiliki keterbatasan dalam menjawab misteri alam.

Dalam perdebatan itu, salah satu suara yang kerap dijadikan contoh adalah kritik ateis seperti Richard Dawkins yang mempertanyakan keberadaan campur tangan Tuhan ketika jutaan orang terdampak pandemi. Di sisi lain, sains juga dipersoalkan karena meski berkembang pesat, ia diakui belum mampu menjelaskan seluruh fenomena alam. Keterbatasan itu kemudian melahirkan gagasan “theology of gaps”, yakni ruang-ruang penjelasan yang belum dapat dijangkau sains.

Di tengah tarik-menarik tersebut, muncul pandangan “jalan ketiga” yang menolak mempertentangkan agama dan sains. Perspektif ini menempatkan keduanya sebagai ranah yang dapat saling melengkapi: sains tetap berkembang tanpa bisa dibendung oleh agama, sementara agama juga tidak serta-merta kehilangan legitimasi oleh kemajuan ilmiah.

Perkembangan ilmu pengetahuan, terutama neurosains, menjadi salah satu pijakan diskusi baru tentang kebahagiaan dan spiritualitas. Neurosains, yang menelaah kerja otak dengan puluhan miliar neuron, dipandang mampu menjelaskan perilaku manusia, kecerdasan, serta aspek kesehatan. Dalam narasi ini, otak juga disebut berkaitan dengan apa yang selama ini dibahas mistikus sebagai “hati” dalam pencarian makna hidup, termasuk pembahasan mengenai “hormon bahagia” yang dikaitkan dengan rasa damai, ekstase, dan pengalaman hidup bermakna.

Bersama perkembangan psikologi positif, neurosains dinilai membuka optimisme bahwa aspek-aspek yang selama ini dianggap tak kasat mata dapat didekati secara ilmiah. Dari sinilah Denny JA mencanangkan gagasan “spiritualitas baru” yang didasarkan pada kemajuan ilmu pengetahuan dan riset empirik, dengan tujuan memberikan peta jalan bagi manusia untuk menemukan kebahagiaan.

Dalam gagasan tersebut, Denny JA menempatkan spiritualitas sebagai sesuatu yang dapat dirumuskan melalui temuan ilmiah, berbeda dari tradisi spekulatif para filsuf klasik. Ia mengutip pandangan tokoh Stoik seperti Seneca dan Cicero yang menyebut kebahagiaan tidak memiliki ukuran atau bersifat “buta”, lalu menempatkan sains sebagai cara untuk menjawab spekulasi yang sebelumnya hadir dalam filsafat, mitologi, maupun wahyu.

Meski demikian, Denny JA tidak menyimpulkan bahwa mitologi dan agama akan berakhir. Ia menyebut agama memiliki “seribu nyawa” dan menilai narasi spiritualitas gelombang pertama (mitologi) dan gelombang kedua (wahyu) tetap menjadi sandaran banyak orang. Spirtualitas baru yang ia sebut sebagai gelombang ketiga, menurutnya, tidak dimaksudkan menggantikan agama atau mitologi, melainkan hadir berdampingan.

Gagasan itu dituangkan dalam buku “Spirituality of Happiness”, yang disebut sebagai intisari perjalanan spiritual dan intelektual Denny JA selama sekitar empat dekade. Publik sebelumnya lebih mengenalnya sebagai konsultan politik dan penulis isu demokrasi, serta belakangan terkait pengembangan genre “puisi esai”. Namun, ia menyebut minat pada spiritualitas telah lama ia tekuni, termasuk kajian tentang kebahagiaan, yang juga menjadi kelanjutan dari bukunya “Bahagia itu Mudah dan Ilmiah”.

Dalam pengantar yang ditulis Anick HT, disebutkan bahwa pada masa mahasiswa 1980-an Denny JA mempelajari empat agama besar—Islam, Kristen, Hindu, dan Budha—serta menelusuri berbagai tradisi dan pemikiran spiritual, termasuk teosofi, filsafat perenial, Krishnamurti, Swami Vivekananda, Osho, Subud, dan Ki Ageng Surya Mentaram. Ia juga menekuni riset psikologi positif dan meramu pengalaman tersebut ke dalam bahasa yang dibuat mudah dicerna.

Setelah buku itu diluncurkan, respons pembaca mengalir dan dibahas dalam grup Facebook Esoterika-Forum Spiritualitas. Sebagian tanggapan kemudian dihimpun dalam sebuah buku yang memuat 38 artikel ulasan dan respons dari beragam latar belakang profesi dan pengetahuan, mulai dari agamawan, sastrawan, aktivis, ahli statistik, dosen, hingga jurnalis. Anick HT menyebut dirinya terlibat sebagai admin dalam grup tersebut.

Menurut pengantar itu, mayoritas respons menilai positif sintesis spiritualitas baru yang ditawarkan Denny JA, terutama karena dianggap menjawab kegelisahan sebagian orang terhadap masa depan agama yang dinilai cenderung fundamentalistik, sekaligus perkembangan sains yang dipersepsikan menggerus peran agama dan moralitas dalam pencarian makna hidup.

Namun, sejumlah catatan kritis juga muncul. Salah satunya mempertanyakan unsur kebaruan gagasan tersebut, dengan argumen bahwa studi empiris lebih banyak mengafirmasi hal-hal yang telah muncul sebelumnya dalam tradisi spiritual. Kritik lain menekankan bahwa empirisisme dinilai tidak dapat menjangkau wilayah transendental atau metafisis, sehingga sains dianggap hanya mampu menjelaskan kebahagiaan pada level kesadaran badan, sementara kebahagiaan pada level kesadaran jiwa memerlukan perspektif mistisisme.

Ada pula pandangan yang menilai upaya memformulasikan kebahagiaan yang kompleks ke dalam rumusan tertentu berpotensi menjadi simplifikatif, bahkan utopis, mengingat sains memiliki keterbatasan dan tidak semua hal dapat dirasionalisasi. Kritik lain menekankan bahwa spiritualitas lebih merupakan soal penghayatan ketimbang pengamatan, serta melibatkan interpretasi subjektif manusia yang unik. Karena itu, kebahagiaan dinilai tidak mudah “dikerangkeng” oleh satu formula.

Catatan lain menyangkut masa depan mitologi dan agama yang disebut tidak pernah benar-benar mati. Narasi mitos dan agama tetap mengandung unsur irasionalitas yang, bagi sebagian orang, hanya bisa dijangkau melalui keyakinan. Dalam pengantar itu juga disebutkan bahwa Denny JA cukup berhati-hati: spiritualitas baru yang ia tawarkan dibatasi sebagai panduan hidup agar lebih bermakna, bahagia, dan menebar kebaikan berdasarkan riset empirik, serta dapat diimplementasikan dalam kebiasaan dan pola pikir yang berjalan beriringan dengan agama atau kepercayaan yang dianut.

Melalui rangkaian respons yang dihimpun, buku tersebut menampilkan peta perdebatan tentang spiritualitas berbasis sains: dari dukungan terhadap pendekatan empiris dalam membahas kebahagiaan, hingga kritik yang menegaskan batas sains dan pentingnya dimensi penghayatan. Anick HT menilai salah satu capaian buku Denny JA adalah kemampuannya mengajak pembaca terlibat dalam diskusi yang tidak selalu populer, dengan kemasan istilah yang mudah diakses, bahasa ringkas, dan logika yang rapi, tanpa meninggalkan nuansa ilmiah.