BERITA TERKINI
Dari El Mundial hingga Waka Waka: Lagu-Lagu Piala Dunia yang Menjadi Ikon Global

Dari El Mundial hingga Waka Waka: Lagu-Lagu Piala Dunia yang Menjadi Ikon Global

Piala Dunia bukan hanya perayaan sepak bola terbesar di dunia, tetapi juga panggung bagi lagu-lagu yang daya tariknya kerap melampaui turnamen yang hanya berlangsung beberapa minggu. Sejumlah lagu yang diciptakan untuk merayakan Piala Dunia kemudian menjelma menjadi ikon budaya populer, melekat pada ingatan generasi penggemar dan membentuk cara publik mengenang tiap edisi turnamen.

Salah satu titik awal perubahan terjadi pada Piala Dunia Spanyol 1982 lewat “El Mundial” yang dibawakan Plácido Domingo. Sebelum periode itu, lagu-lagu Piala Dunia umumnya berwatak motivasional. Kehadiran Domingo—seorang penyanyi opera kelas dunia—menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya vokalis klasik tampil di panggung Piala Dunia, mendekatkan musik sepak bola dengan bentuk seni yang berbeda. Penampilannya memang tidak menonjol dari sisi energi, namun membuka jalan bagi FIFA untuk menggandeng bintang musik global pada edisi-edisi berikutnya.

Delapan tahun kemudian, Italia 1990 melahirkan lagu yang bagi banyak orang menjadi representasi paling kuat dari sejarah Piala Dunia: “Un Estate Italiana”. Lagu aslinya berjudul “To Be Number One” dan digubah Giorgio Moroder, tetapi versi Italia yang dinyanyikan Edoardo Bennato dan Gianna Nannini yang kemudian menjadi legendaris. Berbeda dari tren lagu Piala Dunia yang lebih energik pada era setelahnya, “Un Estate Italiana” memikat lewat melodi romantis dan emosional. Hampir 40 tahun berselang, lagu ini masih sering muncul dalam video kompilasi momen paling berkesan Piala Dunia, dan bagi banyak penggemar menjadi simbol era keemasan sepak bola.

Piala Dunia Prancis 1998 menandai titik balik lain ketika musik Latin mulai mendominasi perhatian global. “The Cup of Life” milik Ricky Martin dengan cepat menjadi fenomena internasional, menduduki puncak tangga lagu di lebih dari 30 negara dan kerap disebut sebagai salah satu lagu Piala Dunia terbaik sepanjang masa. Seruan yang mudah dikenali dari lagu tersebut juga bertahan lama sebagai slogan di stadion selama bertahun-tahun, dan penampilannya tetap dikenang sebagai salah satu momen paling berkesan dalam sejarah upacara pembukaan Piala Dunia. Pada edisi yang sama, “La Cour des Grands” karya Youssou N’Dour dan Axelle Red juga menuai pujian karena pesan humanistik serta semangat multikultural yang ingin disampaikan Prancis.

Memasuki Jerman 2006, Piala Dunia menghadirkan “The Time of Our Lives” yang dibawakan Tony Braxton dan Il Divo. Lagu ini membawa pesan perdamaian, persatuan, serta aspirasi membangun dunia yang lebih baik. Meski tidak dianggap sebagai lagu yang paling “meledak” secara emosi di lapangan, karya tersebut tetap dipandang sebagai salah satu yang paling bermakna dalam sejarah Piala Dunia. Pada tahun yang sama, “Hips Don’t Lie (Bamboo Version)” dari Shakira dan Wyclef Jean menjadi sensasi global. Walau bukan lagu resmi turnamen, penampilan versi tersebut sebelum final ikut mengaitkan nama Shakira dengan Piala Dunia, sekaligus menjadi awal perjalanan yang membuat sebagian penggemar menjulukinya “Ratu Piala Dunia”.

Jika ada satu edisi ketika musik benar-benar melampaui batas olahraga, banyak orang menunjuk Afrika Selatan 2010. “Waka Waka (This Time for Africa)” yang dinyanyikan Shakira berkembang menjadi fenomena global. Guinness World Records mencatat lagu ini sebagai lagu Piala Dunia yang paling banyak diputar di Spotify, sementara video musiknya telah ditonton lebih dari 4 miliar kali di YouTube dan terjual jutaan kopi di seluruh dunia. Tarian “Waka Waka” bahkan memicu tren flashmob di puluhan negara. Hingga kini, lagu itu masih kerap disebut sebagai lagu Piala Dunia paling sukses sepanjang masa, dan di berbagai forum musik banyak pendengar menilai belum ada lagu yang benar-benar melampaui pengaruhnya.

Selain “Waka Waka”, edisi 2010 juga diwarnai popularitas “Wavin’ Flag” karya K’naan. Meski bukan lagu resmi FIFA, lagu tersebut mendapat tempat karena membawa pesan kebebasan, harapan, dan persatuan. Dalam ingatan banyak penggemar, “Waka Waka” dan “Wavin’ Flag” tetap menjadi dua lagu paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.

Piala Dunia Brasil 2014 menghadirkan “We Are One (Ole Ola)” yang dinyanyikan Pitbull, Jennifer Lopez, dan Claudia Leitte. Lagu ini meraih miliaran penayangan dan memiliki banyak penggemar selama turnamen berlangsung. Namun, pengaruhnya disebut cepat memudar setelah Piala Dunia usai. Pada periode yang sama, sebagian orang justru lebih mengingat “La La La” milik Shakira, meski lagu tersebut bukan rilisan resmi FIFA.

Terbaru, Piala Dunia Qatar 2022 mencatat sejarah sebagai kali pertama seorang artis K-pop memiliki lagu solo resmi untuk turnamen. “Dreamers” karya Jung Kook dengan cepat memuncaki tangga lagu iTunes di lebih dari 100 negara, sekaligus membantu FIFA menjangkau audiens muda dalam skala global. Di balik itu, ada cerita yang tidak banyak diketahui: menurut Billboard, Jung Kook menerima tawaran berpartisipasi ketika hari pembukaan sudah dekat dan hanya memiliki waktu kurang dari sebulan untuk mempersiapkan penampilan. Ia menyelesaikan rekaman, berlatih koreografi, lalu bergegas ke Qatar untuk tampil di upacara pembukaan. Penampilannya disebut menarik puluhan juta penonton hanya dalam satu malam.

Rangkaian lagu dari 1982 hingga 2022 memperlihatkan bagaimana Piala Dunia bukan semata kompetisi di lapangan, melainkan juga ruang pertemuan budaya pop global. Dari balada emosional hingga anthem yang memicu tarian massal, lagu-lagu ini terus membentuk cara publik mengenang Piala Dunia—bahkan jauh setelah peluit akhir dibunyikan.